Remaja Oeltua, 26 Oktober 2013

Tinggallah Dalam KasihKu

(Yoh 15:9-17)

 

Ada dua orang bersaudara, sebut saja namanya Andreas dan Daniel. Orang tua mereka adalah orang terpandang dan sangat kaya. Harta kekayaan mereka termasuk uang triliunan dolar, berhektar-hektar tanah, yang digunakan untuk peternakan dan perkebunan, belum lagi berbagai alat elektronik terbaru yang ada dalam rumah mereka yang sangat besar. Orangtua mereka sangat mengasihi mereka. apa saja yang mereka perlu, apapun yang mereka minta pasti dipenuhi oleh orang tua mereka. Termasuk ketika Daniel meminta uang sebesar 1 milyar untuk dia melakukan perjalanan keliling dunia bersama beberapa temannya. Alasannya, Daniel mau melihat dunia, mau melihat keadaan negara lain, sehingga dia bisa menghargai negara tempat tinggalnya. Tapi belum sampai 5 negara yang dia kunjungi, uangnya sudah habis sehingga dia harus jadi pengamen jalanan hanya supaya dia bisa pulang. Sementara di rumah, Andreas setia mengurus peternakan. Selain karena dia dipercaya orangtuanya untuk mengawasi pekerja-pekerja, Andreas juga menyukai kuda, bahkan dia pernah meminta uang sebesar 700 juta kepada orang tuanya, hanya untuk membeli Black Stallion, seekor kuda keturunan Arab yang sangat tangguh. Sampai suatu ketika, Daniel pulang hanya dengan tas ransel kecil, yang hanya berisi paspor. Daniel bercerita, dia dirampok dan ditipu di Vietnam, di Prancis, dan di Rusia. Bahkan waktu di Rusia, dia harus makan daun dan buah2 di hutan dan sempat keracunan, karena dia sudah kehabisan uang. Waktu dia pergi, dia pergi dengan pesawat, tapi dia pulang dengan bis dari kota ke kota. Bapaknya, bertanya dengan sedih, “kenapa kamu tidak tinggal dalam kasihku?”. Sementara itu, Andreas yang mendengar cerita Daniel, menjadi murka. Dia marah karena orangtuanya masih mau menerima Daniel, yang sudah menghabiskan uang 1 milyar dengan sia-sia, bahkan menyelenggarakan pesta selamat datang. Sementara dia yang sudah mengurus peternakan, yang kuda kebanggaannya sudah menang di beberapa pertandingan dan menghasilkan uang untuk menambah kekayaan orangtuanya tidak pernah dibuatkan pesta. Kepada Andreas, bapaknya juga bertanya dengan sedih, “Kenapa kamu tidak tinggal dalam kasihku?”  Andreas dan Daniel pun merenung dan menyadari bahwa selama ini mereka memang tinggal bersama orangtua mereka tapi tidak tinggal dalam kasih orangtua mereka. Cerita ini hanyalah fiksi, perumpamaan anak yang hilang yang dimodifikasi. Tapi seperti kedua bersaudara ini, kita juga seringkali tidak tinggal dalam kasih Bapa kita di sorga. Bagaimana? Kita menyia-nyiakan kasih Allah, dengan meninggalkan Dia dan hidup sesuai dengan keinginan kita sendiri seperti Daniel (Si Bungsu)  atau dengan melakukan semua perintah Allah dengan harapan mendapatkan sesuatu, tidak dengan tulus hati karena kasih seperti Andreas (Si Sulung). Lalu bagaimana caranya agar kita tinggal dalam kasih Bapa? Dalam ayat 10 dan 12 Tuhan Yesus membuka rahasianya. Ternyata untuk tinggal dalam kasih Allah, sangat sederhana. Yaitu dengan menuruti perintah Allah dengan dasar kasih seperti Yesus. Dengan mengasihi Allah dan sesama seperti Yesus mengasihi Allah dan sesama. Tapi sederhana tidak berarti mudah. Kasih seperti Yesus bukanlah jenis kasih yang biasa berlaku di antara manusia. Kasih di antara manusia baru ada, waktu seseorang dikasihi, maka dia akan mengasihi balik. Kasih di antara manusia melibatkan nafsu. Maka terjadilah kumpul kebo. Kasih di antara manusia melibatkan harta dan materi. Maka muncullah istilah “ada uang abang sayang, tidak ada uang abang ditendang”. Lalu bagaimana mengasihi Allah dan sesama seperti Yesus?

Pertama, mengasihi dengan kasih yang berkorban (ay. 13). Karena kasihNya kepada Bapa dan manusia, Tuhan Yesus berkorban dengan menjadi manusia. Dia yang adalah pencipta harus rela turun jabatan jadi ciptaan, Dia yang adalah Raja harus rela jadi hamba dan lahir di kandang (Flp 2:6-8). Tidak akan kita temukan Tuhan Yesus minta-minta uang atau makanan pada orang lain, melainkan Tuhan Yesus memberi makan orang lain (5000 org dan 4000 org). Dan menarik seklai, Tuhan Yesus tidak pernah gembar-gembor kemana-mana kalau Dia sudah melakukan kebaikan. Dalam beberapa peristiwa, Tuhan Yesus malah melarang orang-orang yang Dia tolong untuk menceritakan tentang Dia. Tidak ada satu buku pun di dunia yang ditulis langsung oleh Tuhan Yesus. Mengasihi seperti Yesus berarti harus rela memberikan waktu, tenaga, dan dana kita untuk Tuhan dan sesama. Dan rela untuk tidak dikenal dan tidak dihargai. Mudah saja, mulai dengan memberi waktu kita untuk intim dengan Tuhan, beri persembahan yang terbaik dan tulus hati bukan sisa, dan bersedia memberi tenaga kita untuk membantu kegiatan-kegiatan pelayanan. Dan prinsip ini juga berlaku dengan hubungan kita dengan sesama.

Kedua, mengasihi dengan kasih yang tunduk (Ay. 14). Dalam seluruh Alkitab tidak ada satupun kisah atau peristiwa yang menceritakan bahwa Tuhan Yesus melawan/menolak melakukan perintah Bapa. Bahkan dalam Flp 2:8 dikatakan “…taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Dalam  Yoh 4:34, Tuhan Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Artinya, buat Tuhan Yesus, melakukan kehendak Bapa adalah hal terpenting dalam hidupNya, bahkan lebih dari makanan. Dengan kata lain, Dia bisa hidup tanpa nasi atau roti, tapi tidak bisa hidup tanpa taat melakukan perintah Bapa. Prinsip ini juga harus ada dalam hidup kita kalau kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah. Adalah lebih baik dikucilkan dan dihina oleh orang lain karena kita taat kepada Allah daripada diterima oleh orang lain tapi ditolak oleh Allah. Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita bilang kita mengasihi keluarga kita, maka kita juga harus taat pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh orangtua kita selama aturan itu sejalan dengan kebenaran firman Allah.

Ketiga, mengasihi dengan kasih yang terbuka (ay. 15). Dalam hubunganNya dengan Bapa maupun dengan murid-muridNya, Tuhan Yesus tidak memiliki rahasia. Semua rencanaNya, isi hatiNya, kerinduanNya, semuanya, diberitahukan pada Bapa dan murid-muridNya. Bahkan Dia juga berjanji juga akan memberitahukan pada kita, sahabat-sahabatNya. Abraham adalah salah satu sahabat Allah yang kepadanya diberitahukan segala rencana Allah, mulai dari masa depan keturunannya, bencana yang akan dialami Lot, bencana yang akan terjadi di masa datang bahkan akhir hidupnya. Bila kita mengasihi Allah, maka tidak ada satupun yang kita sembunyikan dari Allah. Kita sembunyikan juga Allah pasti tahu. Jadi lebih baik diutarakan ‘kan? Begitupun dengan sesama, kalau kita mengasihi orangtua kita maka jangan sembunyikan apapun. Katakan yang sebenarnya. Ungkapkan impian, isi hati, keinginan kita. Dan dengarkan mereka. karena keterbukaan harus berlaku dua arah. Bukan hanya kita yang bicara dan mereka mendengar, tapi juga sebaliknya.

Lalu, apa yang akan kita dapat ketika kita sudah mengasihi Allah dan sesama seperti Yesus? Ketika kita sudah tinggal dalam kasihNya? Pertama, Allah menjanjikan sukacita yang penuh (Ay. 11). Artinya sekalipun keadaan hidup kita sulit, kita akan tetap dpat merasa sukacita, tidak kecewa, tidak putus asa karena kita merasakan kasih Allah. Kedua, Allah menjanjikan buah yang tetap (ay. 16). Artinya berkat kecukupan fisik maupun mental. Sekalipun keadaan sulit, kita tidak akan pernah minta-minta, kita tidak akan stress, kita akan selalu dicukupkan fisik dan mental. Ketiga, Allah menjanjikan jaminan jawaban doa (ay. 16). Dia tidak akan pernah tidak menjawab doa. Dia tidak akan pernah terlambat menjawab doa. Setiap doa kita akan selalu Dia jawab tepat pada waktuNya dan berdasarkan pada kasih dan kebijaksanaanNya.

Jadi, tinggallah dalam kasih Tuhan. Kasih yang berkorban, kasih yang taat, dan kasih yang terbuka, dan nikmati janji-janji Allah. Selamat mengasihi Tuhan Yesus memberkati. Amin.