Sebuah Kehormatan
(Titus 2:3-8)
Sebuah kata bijak berkata, “100 tahun lagi, tidak akan ada yang peduli apa mobil yang anda kendarai saat ini, seberapa besar rumah yang anda tinggali saat ini, berapa banyak uang yang ada di rekening anda, seberapa indah baju yang anda pakai. Tapi 100 tahun lagi, dunia bisa jadi akan menjadi lebih baik, karena anda telah membesarkan seorang anak dengan luar biasa”.
Itulah luar biasanya mendapatkan anugerah menjadi seorang ibu. Tuhan memang tidak pernah memerintahkan setiap wanita harus menjadi seorang ibu. Namun, menjadi seorang ibu adalah salah satu peran yang diberikan khusu pada para wanita. Jika hari inikita mendapatkan kehoramatan dan anugerah untuk menjadi seorang ibu, tentunya kita harus bisa menghargai hal ini dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam membesarkan anak-anak kita. Baik peremapuan maupun laki-laki.
Dalam budaya kita kadang menganggap anak perempuan sebagai sesuatu yang kurang dibandaingkan anak laki-lakiaa, tapi renungkan hal ini. Dari anak-anak perempuanlah akan muncul suami-suami ataupun pria-pria yang hebat. Baik anak perempuan maupun anak laki-laki harus dididik dengan sama dan setara.
Itulah sebabnya firman Tuhan pun sangat memperhatikan peran seorang ibu. Sebuah kehormatan itu tidak bisa disia-siakan, melainkan harus dihargai dengan berlaku sebagaimana rancangan Tuhan atas seorang ibu.
Tuhan mau seorang ibu menjaga kehormatan dengan hidup sebagai orang-orang yang beribadah. Beribadah di sini bukan hanya rajin ke gereja atau ke persekutuan. Dalam bahasa aslinya, beribadah memiliki 3 arti.
Pertama, mengikatkan diri kepda Tuhan hidup dan mati. Artinya, setiap ibu harus benar-benar bersandar pada Tuhan dalam setiap segi hidupnya. Tidak boleh kuatir, tidak boleh marah, harus benar-benar mempercayakan segala kesusahan dan kegembiraannya pada Tuhan.
Kedua, beribadah berarti menaruh diri di bawah otoritas Tuhan. artinya, seorang ibu harus taat kepada segala perintah Tuhan. apapun kata orang lain dalam segala situasi.
Ketiga, beribadah berarti mengekspresikan keterikatan dan ketundukkan itu dengan biasa melakukan ritual dan memuliakan Tuhan melalui gaya hidup. Artinya, setiap ibu harus rajin bersekutu dengan Tuhan baik secara pribadi maupun komunal. Dan setiap perkataan maupun tindakannya harus mencerminkan Tuhan Yesus.
Tujuannya bukan supaya dia dapat puji, tapi supaya anak-anak mereka dapat meneladani mereka dan mengasihi keluarga yang Tuhan karuniakan pada mereka pada waktuNya. Supaya keluarganya dapat menjadi teladan bagi masyarakat di mana ia berada, dan nama Tuhan dimuliakan.
Tugas para ibu adalah lebih dari sekedar untuk sesuatu yang bernilai di hari ini saja, tapi tugas seorang ibu adalah untuk menyiapkan sebuah generasi di masa depan. Karena itulah, jangan pernah menganggap remeh hal ini. Di tangan andalah akan muncul anak-anak yang membangun sebuah generasi, yaitu para, istri, ibu, suami, ayah yang luar biasa.
Selamat menjadi ibu. Tuhan Yesus memberkati