Dibawakan pada Ibadah Minggu & Perjamuan Kudus GKB Kupang 27 Oktober 2013
Mengenal Yesus yang Tidak Ku Kenal
(Flp 3:10-11)
Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, dalam Lukas 8:25, setelah Tuhan Yesus meredakan angin ribut, murid-muridNya bertanya satu sama lain, “siapa gerangan orang ini?” Pertanyaan ini bukan keluar dari mulut orang-orang yang tidak kenal Yesus, bukan juga dari orang-orang yang tidak pernah dengar tentang Yesus, bahkan bukan dari orang-orang yang pernah dengar gossip tentang Yesus. Tapi pertanyaan ini keluar dari mulut murid-murid Yesus yang berbulan-bulan berjalan, makan, bahkan tidur bersama Yesus. Pertanyaan ini keluar dari murid-murid Yesus yang selalu berada di mana Yesus berada, yang melihat langsung mujizat-mujizat yang Yesus lakukan. Ternyata, berbulan-bulan hidup bersama dengan Yesus, tidak menjamin seseorang bisa mengenal Yesus. bertahun-tahun menjadi Kristen tidak menjamin seseorang mengenal Yesus. Pembacaan kita hari ini mengajak kita untuk mengenal Yesus. Apa yang perlu kita kenal dari Yesus?
       Pertama, kita perlu mengenal kuasa kebangkitanNya. Kuasa kebangkitan Yesus adalah kuasa untuk menang. Sewaktu Tuhan Yesus bangkit, kebangkitanNya tidak hanya menandakan bahwa Dia menang atas maut. Tapi juga menunjukkan bahwa Dia menang atas tipu daya setan, Dia menang atas kebencian, menang atas batas-batas kehidupan sosial, menang atas ketentuan-ketentuan yang mengikat, menang atas segala hal. Waktu kita kenal bahkan mengalami kuasa kebangkitanNya, maka kita akan selalu jadi orang yang menang. Mungkin kita berkata kalau kita adalah pemenang, kita sering menyanyikan lagu “Ku menang, ku menang” atau “Lebih dari pemenang”. Tapi apakah benar kita sudah menjadi pemenang? Apakah bertahun-tahun menjadi Kristen kita sudah mengenal kuasa kebangkitan Yesus? Kenyataannya, masih banyak orang Kristen yang terikat oleh adat istiadat, tradisi, peraturan-peraturan yang tidak menyelamatkan. Kita lihat di sekeliling kita atau bahkan diri kita sendiri. Masyarakat NTT terikat oleh tradisi. Bahakan tidak jarang tradisi atau adat punya kedududkan lebih tinggi dari firman Tuhan. Contoh, kalau ada orang mati, harus ada 3 hari-nya, 40 hari-nya, alasannya karena kalau belum 40 hari rohnya masih ada di dunia. Kata siapa? Firman Tuhan bagian mana yang menyatakan seperti itu? Tidak ada! Itu tradisi! Setiap orang yang mati dalam Kristus, tubuhnya kembali menjadi tanah, rohnya kembali kepada Tuhan. Titik. Atau alasannya yang lebih rohani, karena Tuhan Yesus bangkit pada hari ketiga, jadi harus ada 3 harinya. Buat apa? Sejak kapan firman Tuhan memberikan aturan seperti itu? Contoh lain lagi, karena belum belis jadi belum pemberkatan, tapi sudah tinggal bersama, punya anak banyak-banyak. Apa itu benar? Tidak! Itu perzinahan! Firman Tuhan katakan, tubuh kita adalah bait Allah, yang harus kita jaga kekudusannya. Hal-hal seperti ini adalah tipu daya setan! Orang yang mengenal kuasa kebangkitan tidak lagi terikat oleh hal-hal demikian.  Dalam pembacaan kita, Paulus katakan, dia punya hal untuk percaya pada tradisi, bahkan dia adalah orang yang tidak bercacat dalam melakukan tradisi Yahudi (ay. 4-6). Tapi waktu dia kenal kuasa kebangkitan Yesus, semuanya itu dia anggap sampah (ay. 8). Tidak ada gunanya, dan kita tahu bagaimana hidup Paulus akhirnya. Dia dikenal sebagai satu-satunya rasul yang menulis paling banyak kitab dalam Alkitab. Rasul yang tegas dan pendiri banyak jemaat. Rasul yang berpengaruh dalam pertumbuhan kekristenan. Bagaimana dengan kita?  Apakah kita mau hidup dalam tradisi dan adat istiadat yang mengikat? Atau kita mau kenal kuasa kebangkitan Yesus dan hidup dalamnya?
       Kedua, yang perlu kita kenal dari Yesus adalah persekutuan dalam penderitaanNya. Dalam penderitaanNya sebelum di salib, Tuhan Yesus tidak pernah menunjukkan satupun tanda-tanda Dia frustrasi dan putus asa. Tapi ketika Dia tahu bahwa Dia harus mati, Dia mengandalkan BapaNya (bnd. Doa – kehendakMu bukan kehendakKu). Ketika  Dia ditangkap, diadili dan dicambuk, tidak ada perlawanan, atau 1 kata pun yang keluar dari mulutNya. Bahkan setelah dicambuk, diludahi, dihina, kalimat pertama yang keluar dari mulutNya adalah “Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Saat-saat terdalam dalam persekutuan dengan Kristus adalah pada seseorang mengalami penderitaan. Karena respon ketika seseorang mengalami penderitaan merupakan bukti keintiman hubungannya dengan Allah. Dan Tuhan Yesus menunjukkan itu. Dalam penderitaanNya, Dia menunjukkan bahwa Dia mengandalkan Bapa, Dia mengampuni, Dia tetap sabar. KasihNya kepada BapaNya terbukti. Paulus, sebagai rasul yang dipilih langsung oleh Allah, juga menunjukkan bahwa dalam penderitaannya dia tidak menjadi lemah, tapi dia semakin berserah dan menjadi satu dengan Kristus . 2 Korintus 4:8-9 menggambarkan bahwa dalam segala hal Paulus ditindas, namun tidak terjepit; habis akal, namun tidak putus asa; dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, dihempaskan, namun tidak binasa.Karena Paulus tahu bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari dirinya sendiri. Bagaimana dengan kita? Apakah dalam penderitaan kita, kita berserah kepada Allah? Ataukah kita lebih sering menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau bahkan menyalahkan Tuhan?
       Ketiga, yang perlu kita kenal dari Yesus adalah keserupaan dalam kematianNya. Dalam seluruh kehidupan Yesus sebagai manusia, ada satu hal yang sangat menonjol. Yaitu ketaatanNya kepada Bapa. Tidak ada satupun kisah atau peristiwa dalam Alkitab yang menceritakan bahwa Tuhan Yesus melawan/menolak melakukan perintah Bapa. Dalam  Yoh 4:34, Tuhan Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Artinya, buat Tuhan Yesus, melakukan kehendak Bapa adalah hal terpenting dalam hidupNya, bahkan lebih dari makanan. Dengan kata lain, Dia bisa hidup tanpa nasi atau roti, tapi tidak bisa hidup tanpa taat melakukan perintah Bapa. Flp 2:8 mengatakan “…taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Sampai pada kematianNya Yesus hanya taat melakukan kehendak Bapa. Serupa dengan Kristus dalam kematiaanNya bukan berarti kita juga harus mati di salib. Tapi serupa dalam kematian Kristus berarti kita harus menunjukkan ketaatan mutlak kepada Bapa sama seperti Yesus taat kepada Bapa sampai hari matiNya. Bagaimana dengan kita? Manakah yang lebih sering kita lakukan? Taat pada keinginan dan tradisi kita ataukah taat pada Allah?
       Dihadapan kita sekarang ada roti dan anggur yang menggambarkan persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus. Jangan melaksanakan perjamuan kudus karena kewajiban, atau rutinitas liturgi. Kenali Yesus lebih dulu, hidup dalam pengenalan itu. Dengan demikian, kita bisa meresapi dan menghargai pengorbanan Yesus di kayu salib buat kita. Dan kita benar-benar bisa bersekutu dengan tubuh dan darah Kristus. Kenali kuasa kebangkitanNya, kenali persekutuan dalam penderitaanNya, dan jadilah serupa dalam kematianNya. Selamat mengenal Yesus. Tuhan Yesus memberkati. Amin.