Bahagia dalam Masalah
(Yak 1:2-4, 12)
            Ibu-ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, waktu mendengar tema ini, mungkin ibu-ibu berkata, apa mungkin saat dalam masalah, tetap bisa bahagia? Apa mungkin bisa berbahagia waktu kita dipukuli oleh suami? Apa mungkin bisa bahagia waktu tidak bisa makan karena tidak punya uang? Apa mungkin bisa bahagia kalau kita ditolak oleh keluarga? Apa mungkin bisa bahagia kalau kita dihina, dibohongi, dimusuhi orang? Apa mungkin bisa bahagia kalau kita ditipu orang sehingga uang kita habis? Menurut pembacaan kita, jawabannya bukan hanya MUNGKIN tapi HARUS! Kenapa? Ada 3 alasan, kenapa kita HARUS tetap berbahagia sekalipun dalam begitu banya masalah.
            Alasan pertama, karena masalah-masalah itu akan membuat kita tekun (ay. 3). Sewaktu Adam dan Hawa belum jatuh ke dalam dosa, mereka hidup intim dengan Allah, setiap hari mereka bahagia dan mengobrol dengan Allah. Tapi waktu mereka jatuh dalam dosa, hubungan mereka dengan Allah, rusak dan cara mereka melihat Allah juga rusak. Dan bukan hanya mereka tapi juga semua orang di bumi ini yang adalah keturunan mereka. Manusia tidak lagi melihat Allah sebagai sahabat dan Tuhan, tapi manusia melihat Allah sebagai satpam dan pembantu, yang tugasnya hanya untuk melindungi dan membantu manusia keluar dari masalah. Orang kusta, datang kepada Tuhan Yesus karena dia punya masalah, yaitu kusta, dihindari orang, tidak bisa beribadah, harus tinggal di luar pintu gerbang, disingkirkan. Orang buta datang kepada Tuhan Yesus karena dia punya masalah dengan penglihatannya, pengangguran, disingkirkan orang. Pelacur, pemungut cukai, nelayan, orang kerasukan setan, semuanya datang kepada Tuhan Yesus karena mereka punya masalah. Kebiasaan manusia, orang Kristen khususnya, adalah waktu senang lupa Tuhan. Waktu sengsara baru ingat Tuhan. Sehingga Tuhan menggunakan berbagai masalah untuk membuat manusia selalu dekat dengan Dia. Selalu tekun mencari Dia.
            Alasan kedua, masalah-masalah itu membuat kita menjadi sempurna dan utuh (ay.4). Ayub adalah seorang yang sempurna. Dia taat, ayah yang memperhatikan jasmani dan rohani anak-anaknya, suami yang mengasihi istrinya, teman yang memperhatikan kawan-kawannya, orang kaya yang peduli terhadap sesama. Tapi dia belum sempurna dan utuh. Kenapa? Karena dia hanya mendengar Allah dari kata orang, belum mengalaminya sendiri. Baru setelah dia mengalami begitu banyak masalah, dia mengalami dan mengenal Allah secara pribadi (Ayb 42:5). Sewaktu kita dalam masalah, kita akan tekun berdoa, dan dalam proses penyelesaian masalah yang Tuhan berikan, kita akan mengenal Allah secara pribadi. Bukan lagi berdasarkan kata orang. Kita menjadi manusia yang utuh dan sempurna. Bahkan bisa menjadi berkat buat orang lain lewat kesaksian hidup kita.
            Alasan ketiga, Allah menjanjikan sebuah mahkota kehidupan kekal bagi seorang pemenang (ay. 12). Surat Yakobus ini ditulis pada orang-orang Kristen yang pada saat itu berada dalam ancaman kekaisaran Romawi. Orang Kristen tidak boleh berdagang ataupun berbelanja. Orang Kristen yang sakit tidak boleh mendapat pelayanan rumah sakit. Orang Kristen tidak boleh bersekolah. Orang Kristen tidak boleh bekerja di pemerintahan. Orang Kristen tidak boleh beribadah. Orang Kristen dikejar-kejar untuk dibunuh dengan berbagai macam cara. Tapi mereka dituntut untuk tetap berbahagia dan menanggung segala macam cobaan itu dengan setia. Dan untuk itu, Tuhan sudah menyediakan hidup kekal untuk mereka nikmati. Mungkin mereka tidak dapat hidup di dunia dengan nyaman, tapi mereka akan hidup bersama-sama dengan Tuhan dengan aman selamanya. Saya percaya, masalah-masalah kita sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang-orang Kristen pada masa Alkitab. Tapi apabila kita menang menghadapi segala masalah itu, seperti Ayub, seperti orang-orang Kristen zaman dulu, kita juga akan menerima pemulihan dan kehidupan kekal.
            Tapi ada satu syarat agar kita dapat berbahagia dalam menghadapi masalah dan menjadi seorang pemenang. Syarat itu adalah SETIA! Setia untuk taat kepada Firman Tuhan. Setia mengatakan kebenaran. Setia bersaat teduh. Setia mengampuni. Setia mengasihi. Setia dalam segala hal yang menyenagkan hati Tuhan.
            Jadi ibu-ibu, SETIALAH dalam kehidupan ibu-ibu setiap hari agar ibu-ibu dapat berbahagia dalam berbagai masalah. Karena masalah-masalah itu ada agar kita semakin tekun, semakin sempurna dan utuh, dan berhak atas mahkota kehidupan. Selamat berbahagia. Tuhan Yesus Memberkati. Amin