Dibawakan pada Ibadah Paskah GKO Kebalen 24 April 2011

Kemenangan Kristus adalah Kemenangan Keluarga
(1 Korintus 15:51-58)

Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, selama 7 minggu sengsara dan Jumat Agung, kita sudah belajar bagaimana keluarga meneladani penderitaan Kristus. Hari ini kita merayakan kemenangan Tuhan Yesus dengan melihat dampak yang ditimbulkan oleh kebangkitanNya.

Pertama, kebangkitan Tuhan Yesus memberikan pengharapan yang pasti akan keselamatan. Jemaat Korintus adalah salah satu jemaat yang dirintis oleh Paulus. Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi tetapi kebanyakan adalah orang bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, berbagai macam masalah timbul dalam gereja yang masih muda itu. Salah satunya adalah ketidakpercayaan mereka tentang kebangkitan daging. Masyarakat Yunani memahami bahwa kematian dapat membebaskan jiwa dari tubuh. Jadi, seandainya ada kehidupan sesudah kematian, maka hanya hanya jiwa tanpa tubuh (seperti hantu). Dalam pasal 15 ini, Paulus menegur jemaat Korintus yang pada waktu itu tidak mempercayai kebangkitan Kristus dengan alasan orang yang mati tidak bisa hidup lagi. Kepada mereka yang tidak percaya, Paulus menegur dan menguatkan mereka, bahwa Kristus sungguh-sungguh hidup dan bangkit. Jika Kristus tidak bangkit, Paulus mengatakan sia-sialah pemberitaan Injil yang dia sampaikan dan sia-sialah juga kepercayaan mereka. Dengan kata lain, kebangkitan Kristus adalah inti Injil sejati dan iman Kristen.

Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia telah berusaha dengan berbagai cara untuk kembali kepada Allah. Umat manusia yang berdosa menganggap bahwa untuk memperoleh pengampunan Allah adalah dengan melakukan perbuatan baik, amal dan memberikan korban atau sesajian. Namun sayang semua itu tidak berhasil, semuanya itu tidak menjamin pengampunan dosa umat manusia/keselamatan. Kita mengetahui bahwa ada agama di dunia ini yang mendoakan kerabat dan keluarganya yang meninggal supaya dosa-dosa mereka diampuni dan semoga diterima di sisi Allah. Hal ini membuktikan bahwa pengampunan dosa bagi mereka belum merupakan suatu kepastian, pengampunan dosa belum terjamin. Namun tidak demikian dengan iman kristiani. Kematian Kristus menyatakan kasih serta pengorbanan-Nya bagi umat manusia dan kebangkitan-Nya menyatakan pembenaran Allah terhadap pengorbanan Kristus, pengorbanan-Nya untuk penebusan umat manusia telah diterima Allah. Kebangkitan-Nya adalah bukti bahwa Allah mengesahkan pengorbanan Kristus dan dengan demikian mengesahkan pula pengampunan dan penebusan-Nya bagi umat manusia. KebangkitanNya juga menjamin kebangkitan orang-orang percaya, Firman Tuhan mengatakan bahwa Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Artinya Yesus ada di depan sebagai model bagi orang-orang percaya. Kalau Dia dibangkitkan, maka kitapun akan dibangkitkan, jika Dia naik ke surga, maka kitapun akan naik ke surga. Kalau Yesus adalah pemenang, maka kitapun adalah pemenang.

Kedua, kebangkitan Tuhan Yesus membuktikan Ia mengalahkan maut. Orang Yunani percaya pada keabadian jiwa, tetapi mereka tidak percaya pada kebangkitan tubuh. Sementara orang Yahudi percaya bahwa orang yang mati akan pergi ke dunia bawah tanah, yang lebih banyak dipercayai sebagai neraka. Kepercayaan bahwa orang mati akan ke neraka disebabkan oleh pemahaman hukum Taurat (yang berisi peraturan yang tidak bisa dilanggar jika tidak ingin dihukum karena itu berarti melakukan dosa, sehingga harus dihukum) bahwa setelah mati orang-orang akan menghadap Tuhan untuk menjalani penghakiman. Sehingga mereka takut akan kematian. Namun, di ayat 19, Paulus mengemukakan bahwa jika kita hanya menaruh pengharapan pada Kristus yang mati dan tidak bangkit, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Mengapa? Karena bila demikian, Tuhan Yesus sama seperti semua filsuf dan pendiri agama yang lain, mereka semua mati dan para pengikutnya tidak mendapatkan kepastian pengharapan. Para penganut agama dengan susah payah berbuat baik supaya dia dapat “diselamatkan”, mengapa? Karena para pendiri agama mereka tidak dapat menyelamatkan mereka. Tetapi Kristus bukan hanya mati, tetapi Ia bangkit membuktikan Dia telah menang mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut, serta memberikan keselamatan dan pengharapan kepastian iman bahwa di dalam Kristus sajalah, ada jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6) dan di luar Dia, mutlak tidak ada jalan keselamatan (Kis. 4:12). Karena kebangkitan Kristus, maut dan kematian tidak lagi menakutkan bagi orang-orang percaya, bahkan maut telah menjadi batu loncatan bagi kita menuju kebahagiaan yang tidak berkesudahan di sorga. Kematian lebih merupakan kepulangan kepada Bapa yang sudah lama menunggu kedatangan anak-Nya. Maut bukanlah akhir dari segala-galanya melainkan awal dari kekekalan. Oleh karena itu perpisahan dengan orang-orang yang kita kasihi tidak harus melarutkan kita dalam kesedihan terus-menerus melainkan menghibur kita bahwa mereka telah bersama Tuhan Yesus, di rumah Bapa di mana masih banyak tempat yang tersedia bagi kita.

Ketiga, kebangkitan Tuhan Yesus mendorong orang percaya untuk semakin giat melayani Tuhan. Seorang pemain bola, setelah ia melesakkan gol ke gawang lawan, dia akan berlari penuh semangat merayakan kemenangannya itu. Inilah yang terjadi pada murid-murid Tuhan saat mereka menyaksikan Tuhan Yesus bangkit! Semangat yang berapi-api melayani Tuhan. Mereka menjadi saksi atas kebangkitan Tuhan Yesus, dengan resiko dianiaya, dihina, diejek. Dan mereka juga tidak pernah mengharapkan pujian, penghargaan, ataupun bayaran dari manusia. Semangat mereka ini dilandaskan pada satu keyakinan, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah mereka tidak sia-sia (ay. 58). Sikap dan pemahaman inilah yang Paulus tuntut ada di dalam kehidupan jemaat Korintus. Bagi Paulus, pemberitaan bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit dan dengan demikian, orang percaya juga akan bangkit, jauh lebih penting dari pada memperdebatkan siapa memiliki karunia apa, atau siapa masuk kelompok mana. Karena orang percaya yang imannya tetap teguh dan giat dalam pekerjaan Tuhan, percaya bahwa mereka melayani Tuhan yang HIDUP! Pelayanan jadi bermakna karena yang mereka layani hidup dan berkuasa. Mereka percaya bahwa karena Yesus hidup, maka Dia menyertai dengan kemampuan dan kuasaNya dan karena Dia hidup, Dia janjikan dan pastikan bahwa setiap pelayanNya menerima upah saat Dia kembali.

Bp/Ibu, kebangkitan Tuhan Yesus tidak hanya kemenanganNya atas ketidakmungkinan, atas maut, ataupun atas kemalasan memberitakan Injil. Tapi kebangkitan Tuhan Yesus juga adalah kemenangan kita atas ketidakmungkinan, atas maut, dan atas kemalasan memberitakan Injil. Oleh karena itu, apabila kita mulai merasa bahwa pernikahan kita tidak mungkin berjalan dengan baik. Atau kita merasa bahwa anak atau pasangan hidup kita tidak mungkin berubah. Atau kita merasa tidak mungkin ikut bersekutu karena kekecewaan, rasa tersinggung, sakit hati dengan si A atau dengan B. Atau kita merasa tidak mungkin Kita bisa memberitakan Injil di Indonesia yang mayoritas adalah muslim. Tidak mungkin kita punya gedung gereja yang lebih besar karena sulit mendapat izin. Tidak mungkin kita bisa melayani dengan baik, tanpa ada penghargaan dari gereja. Ingatlah bahwa kebangkitan Yesus adalah kemenangan Dia dan kita atas segala ketidakmungkinan itu. Jika Yesus sanggup mengalahkan maut, maka Dia juga sanggup memulihkan setiap orang, setiap keluarga, dan setiap gereja. Jika Yesus adalah model bagi orang percaya, maka kita bisa melakukan apa yang Yesus lakukan. Jika dengan kebangkitan Yesus, murid-murid menjadi bersemangat melayani Tuhan, maka kita juga harus bersemangat melayani Tuhan. Selamat Paskah dan selamat menjadi pemenang. Tuhan Yesus memberkati. Amin