Dibawakan pada Kebaktian Keluarga GKO Kebalen 21 April 2011

Sahabat Allah yang Sejati
(Yohanes 15:9-17)

Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus, dalam Alkitab, kata sahabat memiliki pengertian yang sama dengan ungkapan orang yang dikasihi. Salah satu tokoh Alkitab yang dikenal dengan sebutan sahabat Allah adalah Abraham. Sebutan itu Abraham peroleh bukan karena kemampuannya mengambil hati Allah, berbaik-baik dengan Allah, dst. Tetapi karena ia percaya kepada Allah. Kita pun di sini adalah sahabat-sahabatnya Allah. Karena kita percaya kepada Allah. Namun, apakah kita sudah hidup sebagaimana seorang sahabat Allah harus hidup? Ada tiga hal yang harus kita lakukan, apabila kita menyebut diri kita sahabat Allah.

Pertama, seorang sahabat Allah mengasihi Allah dengan pola yang benar. Ada 3 level penyataan kasih: 1) Saya mengasihi Allah karena Allah memenuhi kebutuhan saya, atau karena Allah memberikan mujizat bagi saya. 2) Saya mengasihi Allah karena saya orang Kristen. Hasilnya adalah keterpaksaan. Orang yang mengasihi Allah karena dia adalah orang Kristen, akan mengikuti ibadah, latihan paduan suara, memberi persembahan hanya sebagai rutinitas dan mencari pujian. Bukan untuk melayani. 3) Saya mengasihi Allah karena Dialah satu-satunya Tuhan dalam hidup saya. Kasih dalam level ke-tiga ini menghasilkan pelayanan dan pengorbanan. Hanya orang-orang pada level inilah yang layak disebut sebagai sahabat Allah. Karena mereka mengerti bahwa menjadi sahabat Allah berarti melayani dan rela berkorban bagi Tuhan sebagai buah dari kehidupan percayanya.

Perhatikan bahwa instruksi kepada para murid dalam teks ini, disertai dengan berkat Allah bagi mereka, “supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu (ay. 16). Ini berarti Allah akan memberkati dan mendengar doa setiap orang, setiap keluarga, setiap gerja yang sungguh hati mengasihi Allah dan rela berkorban bagi Dia.

Kedua, seorang sahabat Allah sanggup mengasihi sesama dengan kasih Ilahi. Dalam pasal 14 dan 15, Yohanes mencatat 6 kali, Tuhan Yesus berkata bahwa orang yang mengasihi Dia adalah orang yang mengikuti SELURUH perintahNya. Apa perintah Allah itu? Ayat 12 mengatakan, Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku mengasihi kamu. Dan ayat 17 mengatakan, “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain”. Ini berarti Kasih adalah suatu hal yang penting. Perintah untuk saling mengasihi ini, tidak hanya berlaku pada orang-orang yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita, tetapi juga kepada semua orang. Standar kasih di sini menggunakan kata Agape yakni kasih bagaimanapun, walaupun, dan meskipun. Kenapa harus agape? Karena Agape-lah yang menjadi alasan Allah merelakan Yesus untuk mati bagi kita. Apabila seseorang memiliki agape, tidak peduli apapun yang dilakukan atau dikatakan orang lain terhadap dirinya, ia tidak akan melakukan hal lain kecuali yang terbaik bagi mereka. Ia tidak akan kesal, tidak pernah jengkel, tidak pernah mendendam, tidak pernah membenci, tidak pernah sakit hati, dan tidak pernah menolak untuk mengampuni. Tuhan Yesus sudah memberikan contoh bagi kita, bagaimana agape itu. Dia tidak membalas orang-orang yang menghina dan menyiksa Dia, tapi Dia malah berkata, “Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan Dia tetap mati buat mereka yang menyiksa Dia. Dia tetap berkorban bagi mereka.

Ketiga, seorang sahabat Allah akan menikmati kehadiran Allah dalam segala situasi kehidupan. Seorang sahabat Allah selalu melihat setiap kondisi kehidupan sebagai bagian dari perjalanan hidup iman, sehingga ia semakin menghargai kehadiran Allah dalam hidupnya. Semakin ia tertekan, ia akan semakin kuat, semaik tekun, semakin indah hidupnya, semakin berkenan dan benar di hadapan Tuhan. Kadangkala, lewat berbagai masalah dan kesulitan hidup yang sedang kita hadapi, Allah memberikan kita kesempatan untuk membuktikan diri bahwa kita adalah sahabat Allah yang sejati. Atau dengan kata lain, respon kita terhadap masalah yang sedang kita hadapi akan menentukan layak atau tidakkah kita ini disebut sebagai sahabat Allah. Dalam peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, ada 2 orang penjahat yang sama-sama disalibkan dengan Yesus. Sama-sama diberi kesempatan untuk menikmati kehadiran Allah melalui penebusan yang dilakukan Yesus bagi semua orang termasuk mereka. Tetapi yang satu mau percaya dan bertobat, sedangkan yang lain tetap berkeras hati dan menolak Allah. Dengan demikian, yang terbukti sebagai sahabat Allah adalah penjahat yang bertobat itu. Malam ini kita diingatkan lagi bahwa apapun situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi saat ini (baik itu kesehatan yang terganggu, kondisi ekonomi yang sulit, pekerjaan yang sulit, mengalami kekecewaan, patah semangat, merasa ditinggalkan, dll), kita tidak boleh putus asa, kemudian tidak mau bersekutu lagi, atau meninggalkan Tuhan. Tetapi harus semakin menunjukkan bahwa kita layak disebut sahabat Allah.

Jadi Bpak/Ibu/Sdr/I, jika kita menyebut diri kita adalah sahabat Allah, kasihilah Allah dengan pola yang benar yaitu melayani dan rela berkorban, kasihilah sesama kita seperti Yesus telah mengasihi kita yaitu dengan kasih Agape, dan tunjukkan bahwa kita menikmati kehadiran Allah dalam segala situasi kehidupan. Selamat menjadi sahabat Allah yang sejati. Tuhan Yesus memberkati. Amin.