This slideshow requires JavaScript.

Malam ini (17 April 2011, 11.04 PM) saya baru mendapat -membaca, lebih tepatnya- berita mengenai kecelakaan yang menimpa dosen-dosen saya di Pelabuhan Bakauheuni, Lampung dalam perjalanan mereka kembali ke Jakarta setelah mengajar pada hari Jumat, 15 April 2011 yang lalu.

Awalnya saya membaca status FB salah seorang kakak tingkat saya yang berbunyi “Tuhan berilah kekuatan bt dosen2 kami yg mengalami kecelakaan! Amin.” Ketika membaca status ini, saya shock dan mulai bertanya-tanya. Siapa yang kecelakaan? Kecelakaan apa? Kapan? Di mana? Kemudian saya membaca status FB salah seorang adik tingkat saya, berbunyi “Bapa aku berdoa untuk para dosenku yang kemarin kecelakaan, Mr. Kim, Mr.Lee, Mr. Hadi and Mr. David….Tuhan punya rencana…cepet sembuh…Tuhan Yesus Memberkati kita………” Saya semakin shock. Saya mulai melihat older post di wall FB saya. Ternyata, salah satu dosen saya yang mengalami kecelakaan, meng-upload foto mobil mereka yang hancur tak berbentuk.

Saya tidak bisa membendung air mata saya.

Mereka adalah dosen-dosen yang cukup dekat dengan saya. Saya memiliki pengalaman-pengalaman indah bersama mereka. Pak Kim adalah dosen pertama yang menyapa saya ketika saya masuk di STT. Pak Hadi adalah dosen pertama yang saya tumpangi mobilnya dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Bersama Pak Lee, saya sering menontong film bersama melalui laptopnya karena kami memiliki kecintaan yang sama terhadap film-film bermutu. Sementara Pak David, dia adalah dosen pembimbing skripsi saya yang sangat membantu saya dan merupakan dosen yang paling saya kagumi dan saya teladani.

Namun yang membuat saya semakin terguncang adalah kenyataan bahwa seharusnya saya pun ada di dalam mobil itu dan mengalami kecelakaan itu.

Saya luput dari kecelakaan itu, karena pada saat-saat terakhir hari keberangkatan saya ke Lampung, saya memutuskan untuk tidak berangkat, dengan pertimbangan tugas pelayanan yangg tidak dapat saya tinggalkan. Seandainya saya pergi pada hari Minggu yang lalu, pastilah saya juga sedang terbaring di rumah sakit saat ini. Karena jika saya ke Lampung, saya SELALU pulang bersama mereka ke Jakarta.

Saya bersedih untuk mereka, namun di sisi lain, saya juga bersyukur karena saya terluput. Saya bersyukur karena pelayanan yang Tuhan berikan buat saya sepanjang minggu lalu, tidak memungkinkan saya untuk pergi ke Lampung.
Saya bersyukur untuk halangan-halangan kecil yang menahan saya di Jakarta.

Mungkin saya terdengar -atau terbaca- egois. Namun, melalui kejadian ini, saya justru belajar bersyukur. Saya belajar melihat “The Silver Lining”. Karena harus saya akui, saya menyesal tidak dapat pergi ke Lampung. Minggu lalu, saya berpikir, “waktu saya hanya tinggal 2 bulan (yang artinya hanya 2 minggu lagi, karena sistem kuliah saya intensif) untuk bertemu dengan teman-teman dan dosen-dosen saya. Tapi saya tidak bisa pergi karena ada pelayanan yang harus saya lakukan. Saya rindu kampus saya, Saya rindu teman-teman saya, Saya rindu perjalanan pulang bersama dosen-dosen saya.” Saya rindu itu semua. Tapi saya tidak bisa memuaskannya. Saya menyesali keadaan itu.

Tapi lewat kejadian ini, Tuhan menegur saya. Tuhan membuat saya melihat, bahwa pelayanan yang saya lakukan untuk Dia tidak pernah sia-sia. Dan Dia juga mengingatkan saya bahwa di balik semua kejadian, ada rencanaNya yang indah buat saya.

Untuk Pak Kim, Pak Lee, Pak Hadi, dan Pak David beserta keluarga masing-masing, berjuanglah untuk pulih, tetap semangat, dan tetap kuat dalam iman karena “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28). For Every Cloud Has A Silver Lining.