Bp/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, dari perumpamaan ini, ada 3 hal yang menandakan apakah kita sudah mengikut Yesus dengan benar.
Pertama, orang yang mengikut Yesus dengan benar adalah orang yang menaruh kewajibannya kepada Tuhan, di atas segala pekerjaannya. Artinya, Tuhan selalu menjadi nomor satu, sementara pekerjaannya menjadi nomor dua bahkan tiga. Dia akan meninggalkan pekerjaannya, sepenting apapun pekerjaan atau aktivitasnya itu untuk bersekutu dengan Tuhan. Pada pembacaan kita hari ini, tuan rumah yang mengadakan perjamuan adalah Allah, sedangkan undangan jamuan makan itu adalah kesempatan untuk mengalami Allah, untuk bersekutu dengan Allah. Pada ayat 18, orang pertama menolak undangan jamuan itu karena ia baru saja membeli sebidang tanah dan ia harus pergi melihatnya. Bagi orang Yahudi sebuah undangan harus dihargai sebagai sebuah perintah. Menolak sebuah undangan sama saja dengan menyatakan perang dengan tuan rumah. Namun, orang pertama ini ternyata lebih mementingkan tuntutan kesibukannya sendiri daripada menghadiri jamuan itu. Ia begitu terbenam dalam pekerjaan dan aktivitasnya sehingga dia tidak punya waktu untuk beribadah kepada Allah, bahkan mungkin ia tidak memiliki waktu untuk berdoa. Bp/Ibu/Sdr/I, berapa banyak dari kita yang minimal pernah menggunakan alasan pekerjaan untuk tidak menghadiri sebuah ibadah? Mungkin kita beralasan, “oh saya harus masuk hari minggu, jadi saya tidak bisa ke gereja”, atau “teman saya akan datang hari ini untuk membicarakan pekerjaan, jadi saya tidak bisa ikut ibadah minggu”, atau “hari sabtu saya ada kerja kelompok, jadi saya tidak bisa ikut ibadah pemuda.” Atau “saya masih di kantor, jadi saya tidak bisa ikut penggembalaan”, atau “saya ada latihan futsal, jadi saya tidak bisa ikut rapat paskah” padahal kita sudah berkomitmen untuk melayani Tuhan. Atau “Saya harus berangkat ke kantor atau kampus atau sekolah pagi-pagi sekali, jadi saya tidak bisa bersaat teduh bersama keluarga.” Atau berbagai macam ungkapan lain yang menjadikan pekerjaan kita atau aktivitas kita sebuah alasan agar kita tidak mengikuti suatu kegiatan ibadah atau tidak bersekutu secara pribadi dengan Allah. Bp/Ibu/Sdr/I, jangan biarka pekerjaan atau aktivitas kita mengganggu hubungan kita dengan Tuhan, merusak komitmen kita dengan Tuhan. Bila memang ada aktivitas yang perlu kita lakukan bertepatan dengan jadwal kegiatan gerejawi, lakukan aktivitas itu, setelah kita melakukan kewajiban kita sebagai pengikut Kristus dalam kegiatan-kegiatan gerejawi maupun dalam persekutuan pribadi kita dengan Allah. Bila kita tidak pernah melakukannya, jangan sampai kita lakukan. Bila kita pernah melakukannya, bertobatlah dan jangan pernah melakukannya lagi.
Kedua, orang yang mengikut Yesus dengan benar adalah orang yang menaruh kewajibannya kepada Tuhan di atas segala harta bendanya. Pada ayat 19 pembacaan kita, orang kedua menolak undangan jamuan itu dengan alasan bahwa dia baru membeli 5 pasang lembu kebiri dan harus pergi mencobanya. Ia lebih mementingkan tuntutan dari harta bendanya dan mengorbankan tuntutan Kristus. Sering terjadi apabila seseorang mempunyai sesuatu yang baru, maka tuntutan untuk beribadah kepada Allah akan menjadi terbengkalai. Pernahkah kita mengutak-atik handphone kita, sibuk kirim sms, update status facebook, menerima telephone ketika kita sedang berada dalam suatu ibadah? Pernahkah kita lebih memilih melakukan hobi baru kita padahal kita tahu bahwa kita seharusnya menghadiri ibadah? Pernahkah kita memilih menghadiri reuni dengan teman-teman kita ketika kita tahu ada kegitan gereja yang harus kita ikuti? Ada seorang pemuda, ia baru mendapat hadiah sebuah handphone baru yang cukup canggih. Selama 2 bulan ia memiliki handphone itu, pikirannya tersita dengan segala urusan internet yang bisa dia akses dari handphonenya itu. Di bis menuju kampus, dia online. Di kampus dia online. Waktu makan, dia online. Bahkan ketika ibadah di gereja pun dia online. Akhirnya suatu hari, ketika dia sedang dalam perjalanan menuju kampusnya, handphonenya itu dicopet. Ketika itu, ia marah dan menyalahkan si pencopet. Namun ketika ia sedang berdoa, mengeluh kepada Tuhan atas hilangnya handphone itu, dia sadar bahwa pencopetan itu adalah cara Tuhan untuk membawa dia kembali kepada Tuhan. Dan akhirnya satu-satunya orang yang bisa dia salahkan adalah dirinya sendiri, yang membiarkan dirinya dikuasai oleh handphone. Allah tidak pernah melarang kita untuk memiliki harta benda, teman, maupun hobi, bahkan Dia akan menyediakan itu semua bagi kita. Tapi Allah yang kita sembah adalah Allah yang cemburu. Ketika kita menaruh harta benda, teman, maupun hobi pada prioritas utama hidup kita, maka itu berarti kita telah memberhalakan harta, teman, ataupun hobi yang telah Ia beri buat kita. Dan bukanlah suatu hal yang mustahil apabila suatu saat Ia mengambil segala hal yang menjauhkan kita dari Dia. Pada saat itu terjadi, maka satu-satunya pihak yang bisa disalahkan adalah diri kita sendiri.
Ketiga, orang yang mengikut Tuhan dengan benar adalah orang yang menaruh kewajibannya kepada Tuhan, di atas keluarganya. Orang ketiga berkata, “saya baru saja menikah, dan saya tidak bisa datang.” (ay. 20). Slah satu dari hukum Perjanjian Lama menetapkan bahwa, ketika seseorang baru menikah, ia tidak boleh keluar bersama dengan tentara atau dibebani dengan tugas-tugas ; ia mesti dibebastugaskan selama setahun dan menetap di rumah, agar ia berbahagia dengan isterinya yang baru saja dinikahinya itu (Ul. 24:5). Atas dasar hukum inilah orang ketiga menolak undangan perjamuan itu. Tidak ada hal yang lebih indah bagi seseornag daripada sebuah rumah dan keluarga, namun keluarga tetap tidak boleh menjadi prioritas utama sehingga hubungan dengan Tuhan menjadi rusak. Ada seorang majelis. Setiap kali penggembalaan, dia selalu tidak hadir. Setiap kali ditanya, alasannya istrinya sedang sakit. Padahal isterinya hanya sakit flu ringan. Selama 4 tahun ia menjabat sebagai majelis, ia selalu menggunakan alasan itu. Akhirnya pada tahun ke-5. Tahun terakhir dalam periode itu, istrinya benar-benar sakit kanker bahkan sama sekali tidak dapat bangun dari tempat tidur sama sekali. Jangan kita gunakan alasan acara keluarga, istri, suami, anak, atau anggota keluarga yang lain untuk tidak menghadiri kegiatan-kegiatan gerejawi yang seharusnya kita ikuti.
Bp/Ibu/Sdr/I, pada saat menceritakan perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih ini, Tuhan Yesus sedang berada pada suatu perjamuan yang diadakan oleh seorang pemimpin orang Farisi (ay. 1). Dalam perjamuan itu, tuan rumah hanya mengundang tamu-tamu yang kaya, yang bisa membalas undangannya (ay. 12-14), dan banyak orang yang berusaha menduduki tempat kehormatan (ay.7-11). Pengajaran Tuhan Yesus dalam perjamuan itu, menimbulkan respon salah seorang tamu. Dia berkata, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (ay. 15). Secara tidak langsung, orang ini menyatakan bahwa dia pasti akan menghadiri jamuan Kerajaan Allah itu. Baik tuan rumah, tamu yang mencari tempat kehormatan, maupun tamu yang merespon pengajaran Tuhan Yesus, memiliki kesamaan yaitu kesombongan yang didasarkan pada pemahaman bahwa hanya orang Yahudi yang berhak atas keselamatan dan Kerajaan Allah, selain orang Yahudi tidak berhak.

Bp/Ibu, ketika kita menaruh pekerjaan, harta benda, dan keluarga kita di atas kewajiban kita terhadap Tuhan, kita sudah menjadi orang yang sombong. Kita tidak berbeda dengan orang Farisi. Secara sadar maupun tidak, kita telah memiliki kebanggaan menjadi orang Kristen dan merasa menjadi Kristen sudah bisa menyelamatkan kita. Sehingga kita menyia-nyiakan waktu-waktu persekutuan kita dengan Tuhan. Kita merusak komitmen kita untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap pikiran kita dengan kesombongan kita.

Matius 16:24-25 menyatakan, “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Syarat mengikut Yesus pertama-tama adalah penyangkalan diri. Dengan menyangkal diri, kita telah menaruh pekerjaan kita, harta benda kita, keluarga kita, harga diri kita bahkan nyawa kita di posisi nomor dua, dan meletakkan Kristus di posisi nomor 1 kehidupan kita. Ketika melakukan penyangkalan diri ini, kita akan menjadi orang-orang yang dijamu dalam Kerajaan Allah, tapi apabila kita tidak menjadikan Allah prioritas, maka ayat 24 mengatakan “Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang tekah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku”.

Ketika kita dibaptis dan mengaku percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya, maka kita sudah menekan kontrak seumur hidup bahwa kita akan mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal pikiran kita. SEGENAP bukan separuh. 100%, dan itu berarti menaruh hal-hal lain dalam hidup kita di posisi nomor 2, dan Allah pada posisi nomor 1.

Jadi bp/ibu/sdr/I, tempatkan Tuhan di atas pekerjaanmu, di atas harta bendamu, dan di atas keluargamu. Selamat mengikut Kristus. Tuhan Yesus memberkati. Amin.