Tema : TUGAS ANAK-ANAK ALLAH
Nats : Ibrani 10:22-25

Teman-teman yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, surat Ibrani ini ditujukan bagi orang-orang Kristen Yahudi di kota Roma. Ada 3 jenis hukum bangsa Israel. Yang pertama, hukum Musa yang terdiri dari 5 kitab Taurat (Kejadian-Ulangan). Kedua, kitab Talmud, yang berisi rincian hukum Musa. Dan yang ketiga adalah tradisi-tradisi lisan yang dilaksanakan secara turun-temurun. Orang Yahudi memiliki pengertian, bahwa ketiga hukum inilah yang dapat memerdekakan mereka dari kuasa dosa dan akhirnya memberhalakan Taurat. Penulis kitab Ibrani, melihat bahwa, pengagungan terhadap Taurat, dapat menghasilkan perpecahan dalam jemaat. Melalui surat ini, penulis mau menegaskan bahwa ketika seseorang mengaku percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat, maka ia sudah merdeka. Karena dengan anugerah dari Kristus, tidak diperlukan lagi segala adat istiadat ritual apapun yang diajarkan oleh kepercayaan Yahudi mereka.
Berdasarkan anugerah istimewa yang dilakukan Kristus itu, penulis kitab Ibrani mengajak kita meresponi hal itu dengan tiga langkah praktis:

Langkah pertama adalah menghadap Allah dengan hati tulus dalam iman yang teguh (ay. 22).
Dalam bahasa aslinya, ayat ini berbunyi “menghadap Allah secara terus menerus.” Kalau bangsa Israel dahulu tidak bisa langsung masuk ke ruang maha kudus dan hanya diwakili oleh imam besar setahun sekali, sekarang kita harus menghargai jalan yang baru dan yang hidup dengan cara terus-menerus mendekat pada Allah. Kita tidak boleh sampai lupa untuk berbakti. Sudah merupakan pemberian bagi setiap orang untuk hidup dalam dua dunia, yaitu dunia ini dengan ruang lingkup dan waktunya, dan dunia setelah kematian. Bahayanya ialah ketika kita begitu terlibat dalam dunia yang sekarang ini sehingga melupakan dunia yang lain itu. Ketika kita terlalu sibuk bekerja, sekolah, kuliah, dan bergaul sehingga kita tidak punya waktu untuk bersekutu dengan Tuhan, berarti kita telah menyia-nyiakan anugerah hidup kekal yang sudah tersedia bagi kita. Bila hal ini yang terjadi, maka berubahlah. Sediakanlah waktu untuk menghampiri Allah pada awal setiap hari, pada akhir setiap hari, dan di tengah-tengah kesibukan kita.
Tuhan Yesus sudah memberi kemudahan bagi kita untuk menghadap Allah. Namun, kemudahan akses yang sudah diberkan oleh Yesus bukan berarti membuat kita boleh sembarangan mendekat kepada Allah. Setiap kali beribadah, kita mendekat kepada Allah yang kudus di tempat yang maha kudus, karena itu kita harus mendekat dengan hati nurani yang bersih. Hati nurani yang bersih, artinya tidak munafik, tidak memiliki akar pahit, melainkan dengan penuh kasih terhadap Tuhan dan sesama kita.

Langkah kedua adalah memegang teguh pengakuan pengharapan (ayat 23)

Secara hurufiah ayat 23 seharusnya diterjemahkan “marilah kita terus menerus memegang erat pengakuan pengharapan tanpa goyah, karena Dia yang telah menjanjikannya adalah setia.” Kita adalah anggota Allah jika berpegang teguh pada keyakinan kita. Kita akan mengambil bagian di dalam Kristus apabila teguh berpegang pada keyakinan iman. Pengharapan harus terus dipegang karena ini adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Artinya janganlah kita sampai melepaskan diri dari apa yang kita imani. Suara-suara yang sinis boleh mencoba mengambil kepercayaan kita; orang-orang yang materialistis dengan segala argumentasinya boleh mencoba membuat kita lupa akan Allah; peristiwa-peristiwa hidup boleh secara beruntun menggoncangkan iman kita. Namun kita harus tetap berpegang teguh pada iman yang tidak dapat dikendorkan oleh apapun. Kita harus belajar melihat pada pemberi janji, yakni Allah yang setia, bukan pada situasi disekeliling kita

Langkah ketiga yang harus kita lakukan sebagai respon terhadap anugerah Tuhan itu adalah saling memperhatikan antar saudara seiman (ayat 24-25)

Kita juga harus saling terus menerus memperhatikan antar saudara seiman sebagai instrumen untuk menguatkan dan dikuatkan dalam memegang erat pengakuan pengharapan. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang dapat melemahkan semangat. Namun kita mempunyai tugas kristiani untuk saling membangkitkan semangat. Seringkali sepatah kata pujian atau terima kasih atau penghargaan telah dapat menguatkan seseorang.
Tindakan saling memperhatikan untuk membangkitkan kasih dan perbuatan baik tidak akan tercapai apabila kita menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Sebaliknya, kita harus menasehati satu dengan yang lain. Ibadah orang Kristen bukan hanya memiliki aspek vertikal (kita dengan Allah), tetapi aspek horizontal (kita dengan saudara seiman). Kita perlu saling membangun karena kita adalah tubuh Kristus.

Sore ini kita diingatkan kembali untuk pertama, menghadap Allah dengan hati nurani yang bersih. Kedua, untuk memegang teguh pengakuan pengharapan. Dan yang ketiga, untuk saling memperhatikan antar saudara seiman. Lakukanlah ketiga hal ini dengan setia sepanjang tahun ini dan tahun-tahun berikutnya karena 2 Sam. 22:26 mengatakan, terhadap orang yang setia Allah akan berlaku setia. Selamat menjalankan tugas sebagai anak Allah. Tuhan Yesus memberkati. Amin