I am so thankful for having a family like i have now.

Beberapa minggu ini, saya berkesempatan tinggal dalam sebuah keluarga yang cukup berantakan. Sang ibu hidup terpisah dengan suaminya. Ia juga sering dipermalukan dan mengalami banyak penganiayaan emosi dari suaminya itu. Sementara anak-anaknya juga sama sekali tidak menunjukkan penghargaan atau rasa hormat terhadap ibu mereka. Anaknya yang pria, usianya sudah 20 tahun, walaupun sudah bekerja, ia tidak pernah membantu ibunya dalam hal finansial. Malah dia sering meminta uang kepada ibunya. Sementara anaknya yang perempuan, usianya 16 tahun, sering melawan perkataan ibunya, menyela waktu ibunya sedang berbicara, memukul ibunya, menyuruh ibunya mengambil ini-itu, dan banyak hal yang membuat saya ketika melihatnya menjadi ngeri.
Tapi keadaan keluarga ini justru membuat saya memiliki rasa syukur yang luar biasa, karena saya dilahirkan dalam keluarga yang takut akan Tuhan. Yang mendidik saya dalam koridor Firman Tuhan. Yang menggunakan tongkat dan cinta secara seimbang. Akhirnya saya mampu melihat kebaikan dari segala hajaran dan nasihat -yang saat disampaikan membuat saya bosan- dari keluarga saya, khususnya kakek dan orangtua baptis saya.

Saya bersyukur karena ketika saya minta dibelikan sesuatu yang sebenarnya tidak saya perlukan, orangtua saya menolak memberikannya untuk saya.

Saya bersyukur karena ketika saya minta orang lain melakukan sesuatu untuk saya, orangtua saya malah menyuruh saya untuk melakukannya sendiri.

Saya bersyukur karena ketika saya mengatai orang lain dengan kata-kata yang tidak pantas, orangtua saya menyentil mulut saya.

Saya bersyukur karena ketika saya malas ke gereja, orangtua saya menghukum saya dengan meninggalkan saya di rumah sementara mereka pergi jalan-jalan.

Saya bersyukur karena ketika saya membentak mereka, orangtua saya memukul saya dengan ikat pinggang.

Saya bersyukur karena ketika kamar saya berantakan, orangtua saya mengurung saya dalam kamar sampai kamar itu bersih.

Saya bersyukur karena ketika saya bermain dan tidak mengembalikan mainan saya ke tempatnya, orangtua saya tidak merapikan mainan itu buat saya.

Saya bersyukur karena ketika orangtua saya mengancam untuk menghukum saya bila saya tidak menuruti peraturan mereka, mereka benar-benar melakukan ancaman mereka itu.

Saya bersyukur karena ketika saya pulang di atas jam 11 malam karena bermain, orangtua saya mengunci saya di luar rumah.

Saya bersyukur karena walaupun saya ngantuk luar biasa, orangtua saya tetap menyeret saya dari tempat tidur untuk berdoa pagi.

Saya bersyukur untuk segala “kekejaman” mereka, karena “kekejaman” itu membuat saya:
* dapat memahami kondisi keuangan keluarga
* tidak manja
* selalu melakukan apa yang dapat saya lakukan sendiri, tanpa bantuan orang lain
* dapat menentukan prioritas
* dapat menghormati dan menghargai orang lain
* bertanggungjawab atas segala kewajiban saya.
* menaati dan menghormati orangtua dan orang yang lebih tua.
dan yang terpenting
* membuat saya mengutamakan Tuhan di atas segala sesuatu.

Thank You God for putting me in this family, where i can learn how to respect other especially the elder, how to love other especially my family, how to pay attention on each other, ho to do what i can do by myself, how to put the best of me in everything I do, how to accept and understand all circumstances in life. Thank God for giving me lots of “down”, as much as the “up”, so I can be more mature than many of my friend in my age. For now I can see everything -every single thing- which had been through to my life, had been shaped me the way I am now; a deep-thinker, an sensitive, an open-minded, and a wise person. Better than I was before. And I believe, there will be lots of ups and down in the future, which could make me a better person than i am now.
Thank You God so much.
And thank you Opa, Oma, Ua, Ma Yi, Ma We, Mama, Papa,
God will always bless you all.