Ada seorang pemimpin negara besar, yang terkenal karena kebiasaannya berdoa. Ia adalah seorang pendoa yang baik dan setia. Kebiasaannya berdoa ini sudah ia lakukan sejak ia masih kecil. Ketika ia dipercaya Tuhan untuk memimpin suatu negara, ia menularkan kebiasaannya ini kepada seluruh warganya. Ia mewajibkan seluruh warga negaranya untuk membaca sepuluh hukum Taurat dan berdoa dengan Doa Bapa Kami sebelum melakukan kegiatan belajar, mengajar maupun bekerja. Pemimpin ini adalah Abraham Lincoln. Karena kebiasaannya berdoa itu, kita lihat saat ini, Amerika menjadi negara adidaya dan menjadi tolok ukur dunia dalam segala bidang kehidupan. Hari ini kita mau belajar dari salah satu tokoh Alkitab yang merupakan pendoa yang baik seperti Lincoln, hingga disebut dengan pahlawan doa. Kita akan belajar dari Nehemia. Belajar dari Nehemia, kita menemukan tiga karakteristik pendoa yang baik.

1. Proaktif dalam mencari informasi doa yang jelas
Nehemia adalah seorang Yahudi yang hidup di pembuangan. Pada tahun kedua puluh pemerintahan Artahsasta I (445 SM) Nehemia ini menduduki jabatan sebagai penjabat minuman raja. Jabatan ini adalah jabatan yang tinggi, dan orang yang menduduki jabatan ini merupakan orang yang sangat dipercaya oleh raja. Sebab tugas mereka adalah mencoba minuman yang akan diminum oleh raja, apakah minuman itu beracun atau tidak. Jadi jabatan itu merupakan jabatan yang menentukan hidup matinya seorang raja. Dikisahkan dalam pasal 1 ayat 1 dan 2, pada bulan Kislew tahun ke dua puluh pemerintahan Artahsasta, salah seorang saudaranya, Hanani, datang dari Yehuda bersama-sama dengan beberapa orang saudara. Perhatikan di ayat 2, “ … Aku menanyakan keadaan orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan & tentang Yerusalem. “
Teman-teman, Nehemia sendiri mengambil inisiatif untuk bertanya. Ini bukan pertanyaan basa-basi, teman-teman. Jika kita bandingkan dengan reaksi Nehemia dan tindak lanjutnya setelah mengetahui hal ini (ayat 4), maka saya dapat simpulkan bahwa pertanyaan Nehemia bukan pertanyaan basa-basi, tetapi dia memang rindu akan inofrmasi yang benar tentang keadaan bangsanya untuk kemudian didoakan.
Ia tidak menunggu informasi itu diberikan. Tetapi dia sendiri bersikap proaktif mencari informasi yang jelas itu. Memang ia tidak pergi sendiri ke Yerusalem, tetapi kepekaannya dapat melihat peluang akan sumber informasi yang akurat. Memperlihatkan bahwa dia begitu proaktif dan memandang perlunya informasi yang akurat untuk didoakan.

2. Memiliki empati terhadap orang yang didoakan.

Dalam ayat 3, Nehemia mendapatkan informasi dari saudara-saudaranya tentang keadaan orang-orang Yahudi yang lolos dari penawanan. Keadaan mereka sangat buruk, tercela. Mereka dalam kesukaran besar. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Reaksi Nehemia setelah mendengar informasi itu (ayat 4 ) ia sedih sekali. ia menangis. Ia berkabung selama beberapa hari. Ia berpuasa dan berdoa. Ini adalah suatu reaksi yang sangat dramatis. Nehemia memiliki jabatan yang tinggi, namun ia perduli dan empati kepada saudara-saudara sebangsanya dan terhadap bangsanya. Bukankah lebih enak jika ia tidak ikut campur dengan keadaan bangsanya. Bukankah lebih baik baginya jika ia hidup tenang dengan jabatannya saat itu ? Untuk apa dia bersusah payah memikirkan bangsanya (bahkan jika kita lihat dalam pasal berikutnya, nyawanya sendiri harus dipertaruhkan). Tetapi, rasa ikut memiliki, ikut merasakan inilah yang mendorong Nehemia untuk berdoa dengan bersungguh-sungguh bagi bangsanya. Rasa empati, rasa ikut memiliki, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dapat mendorong seseorang untuk bertindak dengan kesungguhan dan ketulusan hati.

3. Memiliki konsep doa yang benar
Mulai dari ayat 5-11 dicatat tentang doa Nehemia bagi pemulihan Israel. Jika kita melihat doa Nehemia tersebut kita melihat bahwa Nehemia memiliki konsep yang benar tentang doa.
Rangkaian kata-kata doa Nehemia diawali dengan pujian bagi Tuhan (ayat 5). Setelah itu dilanjutkan dengan permohonan agar Tuhan mendengar doanya. (ayat 6a). Setelah itu Nehemia mengaku dosa dihadapan Tuhan, dosa nenek moyangnya, dosa bangsanya dan dosanya sendiri (ayat 6b-7). Pengakuan dosa merupakan hal yang sangat penting dalam doa kita. Tuhan Yesus dalam doa Bapa Kami yang diajarkannya juga memasukkan hal pengakuan dosa dan pengampunan dosa. Bandingkan juga dengan Yakobus 5: 16 “ hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya’. Apakah dimuka bumi ada orang benar? Tidak ada. Tetapi kita dibenarkan jika kita mengaku dosa kita.
Kemudian, dalam doanya Nehemia memegang janji Tuhan (ayat 8-10). Segala permohonannya dia landaskan atas janji Tuhan dan dia tidak meminta yang berlebihan dari yang dijanjikan Tuhan. Dan diakhir doanya Nehemia sekali lagi dengan segala kerendahan hatinya memohon kepada Tuhan untuk mengabulkan doanya. Namun dibalik kerendahan hatinya itu ada suatu keberanian untuk meminta karena dia transparan dihadapan Tuhan (ayat 11). Selain rangkaian doa Nehemia, hal lain yang memperlihatkan bahwa Nehemia memiliki konsep doa yang benar adalah bahwa dia berdoa dengan tak berkeputusan (ayat 4).
Mulai sekarang proaktiflah dalam mencari informasi doa yang jelas, milikilah empati terhadap orang yang didoakan, milikilah konsep doa yang benar, dan jadilah pahlawan-pahlawan doa seperti Nehemia. Tuhan Yesus memberkati. Amin.