Tema :Kebangkitan Gereja 1: Gereja membangun budaya tandingan buat dunia (Gereja yang mengalami kuasa kebangkitan)
Nats: Kisah Para Rasul 13:44-49

Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, hari ini, kita mau melihat apakah kuasa kebangkitan Kristus sudah dialami oleh gereja. Gereja di sini, bukan hanya sebuah lembaga, tapi lebih dari pada itu, gereja adalah masing-masing kita, pribadi lepas pribadi. Bapak/ibu, ada 3 hal yang menandakan bahwa kita sudah mengalami kuasa kebangkitan.
Pertama, gereja yang mengalami kuasa kebangkitan adalah gereja yang meneladani gaya hidup Yesus. Sedangkan gereja yang meneladani gaya hidup Yesus adalah gereja yang mampu berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Bapak/Ibu/Sdr/I, ada seorang penginjil yang seumur hidupnya tidak mau mengampuni ayahnya, yang meninggalkan dia sewaktu dia masih kecil. Ada orang yang sanggup hidup dalam kebencian terhadap sesamanya selama bertahun-tahun. Dia bisa mogok bicara dengan saudaranya selama bertahun-tahun. Ironisnya orang ini bisa kita temui di gereja. Orang-orang seperti ini adalah orang yang tidak mengalami kuasa kebangkitan, yang sebenarnya sudah melepaskan dia dari segala sakit hati dan berbagai bentuk kebencian. Adakah di antara kita yang hidup di bawah kuasa kebencian seperti ini? Bp/Ibu/ Sdr/I, jika kita berselisih dengan sesama kita, dengan pasangan kita, dengan anak kita, dengan adik atau kakak kita, atau dengan siapapun di sekeliling kita, tunjukkanlah kuasa kebangkitan yang sudah kita alami itu, teladanilah Yesus, rendahkanlah hati kita, dan lepaskanlah pengampunan. Gereja yang meneladani gaya hidup Yesus juga, tidak membeda-bedakan orang. Tidak merendahkan orang. Bapak/ibu/sdr, pada pembacaan kita hari ini, orang-orang Yahudi iri hati melihat banyaknya orang yang bersukacita mendengar Firman yang diberitakan Paulus. Hal ini terjadi karena orang-orang Yahudi sangat menjunjung tinggi hukum Taurat dan tradisi. Bagi mereka, orang yang disunat tidak boleh duduk bersam-sama dengan orang yang tidak disunat. Orang yang mau selamat harus mengikuti upacara-upacara keagamaan Yahudi. Ini adalah harga mati buat orang Yahudi. Bagi mereka, orang-orang yang di luar agama Yahudi adalah orang-orang kafir. Sementara, orang Kristen menganggap bahwa sunat dan upacara-upacara keagamaan itu tidak penting tidak ada pembedaan bagi orang Kristen. Semua orang berhak untuk mendengarkan kabar keselamatan. Karena kuasa kebangkitan Yesus sudah melepaskan orang-orang Kristen dari tuntutan hukum taurat. Keselamatan tidak ditentukan oleh disunat atau tidak, melakukan rangkaian upacara keagamaan atau tidak, tetapi ditentukan oleh kepercayaan kepada Yesus, bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruselamat. Seringkali, secara sadar atau tidak, kita bersikap seperti orang Yahudi ini. Kita merendahkan teman, saudara, atau rekan kerja kita karena mereka kurang dari kita, mungkin mereka kurang secara finansial, mungkin mereka kurang dalam bentuk fisik mereka, atau mungkin karena mereka pernah terlibat dengan polisi. Kita sebagai gereja juga mungkin menganggap gereja yang lain sesat, karena tata ibadahnya tidak seperti kita. Bapak/ibu, sikap seperti ini benar-benar mengecilkan arti kuasa kebangkitan Yesus. Yang membawa persamaan derajat. Beberapa bulan yang lalu, kita belajar bagaimana sikap Yesus terhadap pemungut sukai, terhadap wanita, dan terhdap orang-orang berdosa. Yesus mengasihi mereka, Ia bergaul dengan mereka, dan Ia memberikan mereka kesempatan untuk bertobat dan mengubah cara hidup mereka. Jika kita mengalami kuasa kebangkitan Yesus, maka kitapun akan mengasihi semua orang apa adanya.
Hal kedua yang menandakan bahwa kita adalah gereja yang mengalami kuasa kebangkitan, adalah tidak menerapkan standar ganda. Artinya ketika di dalam gereja terlihat sangat baik, sangat kudus, tapi begitu kembali ke kehidupannya sehari-hari, berubah lagi 180o. misalnya, seseorang yang bila di gereja, tutur katanya bagus, ramah, perhatian, tapi begitu pulang gereja, jangankan sampai rumah, baru sampai pagar gereja sudah mengeluarkan kata-kata sia-sia. Atau ada gereja yang karena takut kehilangan anggota jemaatnya, setiap bulan harus mengeluarkan sekian puluh juta untuk membiayai jemaatnya, atau karena takut gerejanya akan ditutup, maka majelis-majelisnya mendukung semua keputusan politik pimpinan gereja, walaupun keputusan itu menyalahi Firman Tuhan. Penerapan standar ganda seperti ini menunjukkan tidak adanya kuasa kebangkitan dalam gereja. Bapak/ibu, Paulus dan Barnabas sudah mengalami kuasa kebangkitan itu, karena itu waktu orang-orang Yahudi menghujat mereka, mereka tidak takut, lalu menyerah pada keinginan orang Yahudi, melainkan dengan berani menyatakan kebenran kepada mereka (ay. 47). Coba kita bayangkan, seandainya saat itu Paulus dan Barnabas menerapkan standar ganda. Seandainya mereka mengikuti keinginan orang Yahudi. Mungkinkah kita saat ini ada di sini? Mungkinkah kita dengan mudah dapat memuji Tuhan dan mendengarkan Firman? Saya berani mengatakan TIDAK MUNGKIN! Karena jika saat itu Paulus kompromi dengan orang Yahudi, untuk mendapatkan keselamatan, kita harus menjalani serangkaian tradisi dan upacara orang Yahudi dulu.
Ketiga, gereja yang mengalami kuasa kebangkitan Yesus, adalah gereja yang hidup dalam komunitas Kerajaan Allah. Komunitas Kerajaan Allah, adalah persekutuan umat Allah yang satu hati, satu pikiran, dan satu tujuan yakni memuliakan Tuhan, yang cara hidupnya sangat berbeda dengan dunia ini. Mari kita buka Roma 12:9-21. orang yang hidup dalam komunitas kerajaan Allah adalah orang-orang yang mengasihi sesamanya. Jika ada sesamanya yang memerlukan bantuan, ia akan segera memberi bantuan (ay. 13). Ia memiliki ketulusan hati damn memiliki empati terhadap situasi yang dialami sesamanya. (ay. 15). Hidup dalam komunitas Kerajaan, berarti tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibagah, melainkan rajin melayani Tuhan dengan Roh yang menyala-nyala (ay.11) serta tekun dalam doa (ay. 12). Bp/ibu, pertemuan-pertemuan ibadah bertujuan agar kita saling membangun, saling dikuatkan, dan dapat membawa banyak orang untukmengenal Allah. Pada bacaan kita, Kis 13:49, Firman Tuhan dapat disiarkan di seluruh Antiokhia, karena jemaat yang sudah mengalami kuasa kebangkitan itu, selalu mendengarkan pengajaran para rasul dan tetap hidup dalam kasih karunia Allah, sehingga mereka bisa menginjili orang lain. Di Gereja kita ini, banyak wadah pertemuan ibadah, yang di dalamnya kita bisa saling membangun, ada komsel, ibadah2 kategorial, sektor, pasutri. Dalam ibadah2 inilah kita bisa saling mendoakan dan menguatkan. Jika bpk/ibu/sdr, sudah terlibat dalam ibadah2 ini, mari terlibat lebih luar biasa lagi. Jika bpk/ibu/sdr selama ini banyak datang beribadah pada ibadah umum minggu, mulailah melibatkan diri dalam ibadah2 yang lain. Janganlah menjauhkan diri dari pertemuan2 ibadah. Tidak ada sedikitpun kerugian yang akan kita alami ketika kita menyerahkan tenaga, waktu, dan harta benda kita pada Tuhan.
Jadi bpk/ibu/sdr/I, teladanilah Yesus, jangan hidup dalam standar ganda, tetapi hiduplah dalam komunitas kerajaan Allah. Selamat menjadi gereja yang yang mengalami kuasa kebangkitan Yesus. Tuhan memberkati. Amin.