SUKACITA SEJATI
Filipi 3:1b-11

Bapak/ Ibu/ Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Surat Filipi ini ditulis oleh Paulus ketika dia sedang dalam penjara di Roma. Penjara pada masa Paulus ada di bawah tanah, bau, lembap, pengap, dan gelap. Bila bapak/ibu/sdr pernah ke museum Fatahillah, di bagian dalam museum, terdapat penjara bawah tanah yang gelap dan hanya berukuran 1 x 2 x 1. Kira-kira seperti itulah penjara Rasul Paulus. Namun, sungguh menarik bahwa Paulus tetap dapat bersukacita bahkan mengajak jemaat Filipi untuk ikut bersukacita. Ini terbukti dengan banyaknya kata sukacita yang digunakan oleh Paulus.
Pada pembacaan kita malam ini, kita juga mau belajar bersukacita seperti Paulus dengan mengetahui apa yang membuat Paulus tetap bersukacita ketika ia menderita.

Ada 3 hal yang Paulus sampaikan, yakni:
1. Sukacita orang-orang percaya tidak terletak pada hal-hal lahiriah, melainkan terletak di dalam Kristus (ay. 2-7)
Kehidupan jemaat mula-mula termasuk di Filipi, selalu menghadapi tantangan dari orang-orang Yahudi yang mencoba mempengaruhi jemaat dengan segala kehebatan dan tradisi Taurat mereka. Paulus mengingatkan jemaat mengenai identitas mereka sebagai orang-orang bersunat yang sesungguhnya dan orang-orang yang sudah melakukan ibadah yang sejati, yakni orang-orang yang menyembah dalam Roh dan kebenaran. Oleh karena itu, umat Allah bermegah dalam Kristus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, karena hanya Kristus satu-satunya sumber sukacita yang dimiliki oleh orang percaya.
Dalam mempercayai hal-hal lahiriah dari tradisi Yahudi, Paulus tidak bercacat. Namun ia menyatakan bahwa kemegahan lahiriah yang dimilikinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengenalannya akan Kristus. Hal ini merupakan kesadaran yang dimilikinya bahwa hanya di dalam Kristus ada kebenaran dan sukacita sejati.
Mungkin saat ini, Taurat bukan lagi menjadi suatu tantangan bagi orang Kristen. Tapi masih ada yang dapat menjadi batu sandungan dalam pertumbuhan orang Kristen. Yakni tradisi atau adat istiadat tertentu yang tidak membawa sukacita, melainkan sangat bertentangan dengan Firman Allah. Misalnya, peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, dll. yang menurut tradisi harus dilakukan agar arwah yang meninggal dapat menemukan jalannya ke surga. Tradisi ini tidak benar dan menyalahi Firman Tuhan yang menyatakan bahwa ketika seseorang meninggal, maka tubuhnya akan kembali menjadi debu, dan rohnya kembali kepada Allah. Jadi, ibadah malam ini dilaksanakan bukanlah suatu bentuk peringatan, melainkan sebagai bentuk pengucapan syukur kita bahwa dala Kristus ada kehidupan setelah kematian.

2. Sebagai orang-orang yang telah menerima anugerah keselamatan, maka tidak ada sukacita yang lebih besar selain mengenal Yesus (ay 8-10)
Mengenal Allah bagi Paulus merupakan tujuan tertinggi dalam hubungannya dengan Allah. Pengenalan akan Kristus meliputi 3 hal, yakni:

a. Kuasa kebangkitan Kristus
Kebangkitan Kristus adalah jaminan bahwa kematian bukanlah akhir kehidupan dan bahwa masih ada dunia di seberang kematian. Kebangkitan Kristus adalah jaminan bahwa tidak ada kuasa mana pun dalam hidup maupun mati yang dapat memisahkan kita dari Dia, termasuk tradisi.
b. Persekutuan dalam penderitaan
Saat-saat terdalam dalam persekutuan dengan Kristus adalah pada seseorang mengalami penderitaan. Karena respon ketika seseorang mengalami penderitaan merupakan bukti keintiman hubungannya dengan Allah.
c. Serupa dengan Yesus dalam kematianNya
Mengenal Kristus berarti kita bersekutu dengan Dia seperti kita bersekutu dengan mereka yang kita kasihi di bumi dan sama seperti kita mengambil bagian dalam pengalaman mereka, maka kita pun mengambil bagian dalam pengalaman Yesus.

3. Sukacita itu akan menjadi sempurna ketika kita menerima penggenapannya saat Kristus datang kedua kalinya, di mana kita akan mengalami kebangkitan di dalam Kristus (ay. 11)
Pengenalan akan Kristus memiliki tujuan agar akhirnya Paulus beroleh kebangkitan dari antar orang mati. Pengharapan ini bukan hanya ,ilik Paulus, tetapi setiap orang percaya, yang akan digenapi ketika Kristus datang ke dunia untuk menghakimi dunia orang mati.

Kita yang ada pada malam hari ini, khususnya Kel………..telah kehilangan, suami, orang tua, saudara, dan teman yang kita kasihi. Namun bukan berarti kita harus kehilangan sukacita kita. Karena kita percaya bahwa pertama, sukacita sejati hanya terletak dalam Kristus dan bukan pada hal-hal lahiriah. Kedua, sukacita sejati dalam hidup kita adalah mengenal Kristus. Ketiga, sukacita kita akan disempurnakan pada kebangkitan kita saat Yesus datang kedua kali.

Selamat bersukacita. Tuhan Yesus memberkati. Amin.