Seandainya Tidak,…

Dibawakan pada Ibadah Minggu Raya GBI King of Kings, Kupang 25 April 2016

Seandainya Tidak… (Dan 3:16-18)

Dalam banyak kesempatan ketika Tuhan Yesus memulihkan seseorang, Tuhan Yesus senantiasa berkata, “Jadilah padamu sesuai dengan imanmu…”. Kunci sebuah pemulihan adalah iman. Yoh 2:5, air dapat menjadi anggur karena iman dari Maria. Mat 15:28, seorang anak dibebaskan dari ikatan setan karena iman ibunya. Luk 7:9, seorang hamba disembuhkan karena iman seorang perwira. Iman menjadi syarat mutlak dalam penurutan kita kepada Kristus.

Hari ini, kita mau belajar beriman seperti yang ditunjukkan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Iman diperlukan untuk berdoa. Kalau kita tidak punya iman kepada Yesus, tidak mungkin kita berdoa kepada Yesus. Tapi paling tidak ada 2 jenis doa yang paling sering dinaikkan oleh orang Kristen. Pertama, orang yang berdoa dengan tidak yakin apakah doanya akan dijawab atau tidak. Dia beriman kepada Tuhan Yesus, tapi tidak beriman kalau doanya akan dijawab. Kedua, orang yang berdoa dengan ngotot, seakan-akan mewajibkan Allah menjawab doanya. Dia begitu beriman bahwa Allah pasti menjawab doanya sehingga ketika Allah tidak menjawab atau menjawab tapi tidak sesuai dengan keinginan dia, dia protes. Supaya kita tidak menjadi salah satu dari dua jenis orang ini, kita dapat belajar dari doa penuh iman yang dinaikkan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.

Tidak perlu ditanya lagi, ketiga pemuda ini pasti ingin diselamatkan dari perapian yang menyala-nyala. Dalam ayat 17, mereka penuh iman, sangat yakin bahwa Allah sanggup melepaskan mereka. Menariknya, mereka menambahkan catatan, “tetapi seandainya tidak…” (ay. 18). Ini membuktikan kesejatian iman mereka. Kenapa?

Pertama, “tetapi seandainya tidak” adalah pengakuan nyata tentang tak terbatasnya hikmat Allah. Ketika pembuangan ke Babel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, tidak hanya kehilangan Negara mereka. Tapi juga kehilangan identitas. Dan 1:4, cara berpikir mereka diubah menjadi sesuai dengan cara berpikir orang Kasdim. Dan 1:5, cara hidup mereka diubah. Dan 1:6, cara ibadah mereka juga diubah dengan berubahnya nama mereka. Namun, dalam keadaan yang sulit seperti itu, ketetapan hati mereka tidak berubah. Bahkan semakin kuat di dalam Tuhan. Yesaya 55:8-9 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengerti betul tentang hal ini. Mereka beriman bahwa Allah sanggup menyelamatkan mereka, tapi mereka juga mengakui bahwa Allah jauh lebih bijaksana daripada mereka. Sekalipun di mata manusia mereka disebut sebagai orang-orang yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan mempunyai pengertian tentang ilmu (Dan 1:4), dihadapan Allah mereka tetap kurang bijaksana. Mereka sadar jika ternyata pada saat itu Allah mengijinkan mereka untuk mati terbakar, maka pasti ada maksud Allah yang lebih indah. Mereka juga menyadari bahwa cara penyelamatan Allah tidak selalu dapat dimengerti oleh manusia. Demikian juga dengan kita, tidak peduli, setinggi apapun pendidikan kita, sebanyak apapun pengalaman kita, seberpengaruh apapun jabatan kita, kebijaksaanaan kita tidak sebanding dengan kebijaksanaan Tuhan. Kita tidak dapat mengerti dengan sempurna rencana Allah dalam hidup kita. Seringkali apa yang kita dapatkan tidaklah sesuai dengan keinginan kita. Pada saat kita menghadapi situasi seperti itu, mungkin kita tidak dapat melihat kenapa itu terjadi? Seringkali pertanyaanlah yang keluar dari mulut kita. Bukan penyerahan. Tapi setelah semuanya terlewati, barulah kita dapat melihat rancangan Allah yang baik buat kita.

Kedua, “seandainya tidak” adalah pembuktian bahwa Allah dan hubungan pribadi dengan Allah jauh lebih penting dari apapun. Kasus yang akhirnya membawa 3 sekawan ini menghadap pengadilan raja, bukanlah kasus pencurian, atau pembunuhan, atau bahkan makar. Tapi kasus yang berdasarkan pada kehidupan rohani 3 sekawan ini. Mereka memilih untuk tetap menyembah Allah Israel, dan karena itu mereka ditangkap dan diancam hukuman mati. Bukan sebuah kasus yang pantas dihukum mati. Tapi itulah yang mereka hadapi. Kesetiaan mereka kepada Allah Israel dinyatakan lewat kesetiaan mereka menyembah 3 kali sehari seperti ketika mereka masih di Yerusalem. Sadrakh, Mesakh dan Abednego membuktikan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup mereka tidak akan mempengaruhi hubungan mereka dengan Allah. Bahkan apabila mereka harus kehilangan nyawa karena itu. Paulus, beribu tahun setelah itu, menyatakan dalam Rom 8:38-39 “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. Keyakinan inilah yang akhirnya membuat Paulus kuat dalam penurutannya kepada Kristus sampai mati. Dalam sebuah film rohani, diceritakan ada seorang profesor atheis yang benar-benar percaya bahwa Allah sudah mati. Dalam kelasnya dia selalu memaksakan mahasiswanya untuk mengikuti pandangannya itu. Ternyata dia menjadi atheis karena mamanya meninggal pada saat dia masih kecil. Peristiwa itu yang membuat dia tidak lagi mempercayai Tuhan. Bagaimana dengan kita? Seringkali ketika diperhadapankan pada situasi yang menyesakkan dan seakan Tuhan tidak menjawab doa kita, kita tidak lagi melihat pada kasih Allah, melainkan fokus kepada masalah kita. Kasih kita kepada Tuhan hanya diukur lewat seberapa cepat Tuhan mengabulkan doa kita. Seberapa banyak mujizat yang Tuhan lakukan bagi kita. Bukan lagi pada pribadi Allah itu sendiri. Ketika iman kita berdasarkan pada mujizat saja, maka kita pasti kecewa. Bangsa Israel adalah contoh yang sempurna untuk itu. Begitu banyak mujizat yang mereka alami dalam perjalanan mereka keluar dari mesir. Tapi baru saja dapat air yang pahit, mereka sudah mengeluh dan menghina Tuhan. Bp/Ibu, Tuhan mungkin tidak menjawab doa kita sebagaimana keinginan kita tapi itu karena Dia mau supaya PribadiNya menjadi yang lebih penting dalam hidup kita. bukan mujizatNya. “Kadang Tuhan tidak mengubah situasi kita karena Tuhan mau mengubah hati kita”. Teladani 3 sekawan ini. Apapun jawaban keyakinan mereka, tidak mengubah pentingnya Pribadi Allah dalam hidup mereka.

Ketiga, “seandainya tidak” adalah bentuk kerendahan hati untuk menempatkan diri di bawah kedaulatan kehendak Tuhan. Amsal 19:21 Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menyerahkan keputusan akhir sepenuhnya ditangan Tuhan. Mereka dengan rendah hati mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang dengan demikian memiliki hak penuh atas hidup mereka. Beribu tahun kemudian, dalam doa di taman Getsemani Tuhan Yesus meneladankan iman yang sama, iman yang penuh penyerahan diri, “bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”. Iman yang tidak hanya menantikan jawaban doa, tetapi terutama merindukan agar kehendak Tuhan yang terjadi. Doa bapa kami, Mat 6:10 “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Artinya, Tuhan yang berdaulat dan kehendakNyalah yang harus (bukan sebaiknya atau seharusnya) yang terjadi. Bukan suatu kebetulan Tuhan Yesus mengajarkan doa ini. Dia mau supaya kita, anak-anakNya memiliki kerendahan hati menundukkan diri dibawah kehendakNya. Bapa/Mama yang terkasih, pada saat doa kita tidak dikabulkan, respon kita menunjukkan kualitas iman yang kita miliki. Tuhan pasti sanggup, tapi bahkan jika Ia tidak bersedia berbuat seperti keinginan kita pun, itu tetap langkah terbaik. Selamat beriman. Tuhan Yesus memberkati. Amin

Advertisements

Siapa yang Terbesar?

Siapa yang Terbesar?
(Luk 9:46-48)
        Ibu-ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, orang yang pantas mendapat label atau predikat “terbesar” menurut ukuran dunia, adalah mereka yang punya kedudukan, punya banyak uang, punya kekuasaan yang besar, atau yang punya banyak anak buah atau pengawal. Tidak jarang kita lihat atau mungkin alami, seseorang dipuja dan dituruti segala kemauannya karena posisinya yang tinggi dalam perusahaan, masyarakat, atau bahkan gereja. Atau orang yang menuntut untuk dihormati, dituruti segala perintahnya, ditanya pendapatnya karena posisinya. Tapi hari ini, firman Tuhan menunjukkan bahwa orang yang “terbesar” menurut Allah tidaklah sama dengan criteria dunia. Orang yang terbesar dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang rela menjadi yang terkecil diantara sesama (ay. 48). Bagaimana ciri orang yang rela menjadi yang terkecil itu? Lukas mencoba menerangkan lewat 3 peristiwa di 3 perikop selanjutnya.
Pertama, mereka adalah orang yang tidak melawan Allah (ay. 50). Saat itu murid2 Yesus sedang sibuk meributkan siapa yang terbesar di antara mereka yang layak memangku sebuah jabatan penting saat Yesus memerintah sebagai Mesias. Karena mereka berpikir, kalau Yesus adalah Mesias, maka Yesus akan mengusir penjajah romawi dari Israel, dan membangun kerajaan baru. Dan kalau Yesus jadi raja, pastilah akan ada yang jadi perdana menteri, dan orang ini tidak mungkin dari luar kelompok murid. Pasti dari antara mereka. Karena itu, murid-murid Yesus merasa superior, lain dari yang lain, paling benar, dan istimewa. Karena superioritas itu, murid2 Yesus merasa perlu untuk mencegah orang lain melayani pengusiran setan sekalipun dengan nama Yesus. Mungkin sewaktu mereka lapor sama Yesus kalau mereka mencegah orang lain di luar murid2 untuk mengusir setan, mereka mengharapkan pujian dari Yesus. tapi ternyata jangankan dipuji, mereka justru ditegur oleh Yesus. “Barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu”. Seringkali kita seperti murid-murid. Karena kita aktif dalam pelayanan, atau kita punya talenta, atau kita punya kedudukan dalam masyarakat atau bahkan gereja. Kita mulai melarang orang lain untuk melayani Tuhan. Kita mulai menghakimi gereja A sesat, persekutuan B sesat, dll. Waktu kita lakukan itu mungkin kita merasa kita benar, tapi lihatlah murid2 Yesus, bukan pujian yang mereka dapat, melainkan teguran. Kalau kita mau jadi yang terbesar dalam kerajaan Allah, jangan lawan orang yang melayani demi nama Tuhan Yesus, karena bisa jadi kita melawan Tuhan sendiri, tetapi bekerjasamalah membangun kerajaan Allah.
        Kedua, orang yang terbesar dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (ay. 54-55). Dalam perjalanan ke Yerusalem untuk disalib, Tuhan Yesus beserta murid-muridNya harus melewati daerah Samaria. Orang Samaria dan orang Israel bermusuhan karena orang Samaria kawin campur dan menyembah allah lain. Sebelum Tuhan Yesus sampai di desa Samaria, utusan-utusan yang dikirim oleh Yesus, kembali dan memberitahu bahwa mereka ditolak oleh orang Samaria. Secara manusia,  wajar kalau kemudian murid-murid Yesus murka dan mau mengirim api dari langit. Karena mereka teringat kisah Elia yang meminta api dari langit untuk membakar 2 orang perwira dan 100 anak buah mereka yang diutus raja Ahazia untuk menolak Elia sebagai hamba Tuhan. Lagi-lagi, bukannya dipuji karena keinginan mereka untuk membela Yesus, Yesus berpaling dan menegur murid2Nya. Bagaimana dengan kita ? bukankah kita juga sering mengutuk orang lain yang menolak kita? Mungkin bukan dengan terus terang bilang “saya kutuk kamu…bla..bla…bla” Tapi mungkin kutukan itu keluar dari mulut kita dalam bentuk doa. Familier dengan bunyi doa begini? “Tuhan saya mengampuni si A, biar Tuhan saja yang balas perbuatannya sama saya.” Ibu-ibu, itu adalah kutukan yang tersamar. Tapi tetap saja kutuk. Orang yang terbesar dalam kerajaan Allah tidak boleh seperti itu. Melainkan harus mengampuni dan mengasihi sepenuh dan setulus hati.
        Orang yang terbesar dalam kerajaan Allah yang ketiga adalah orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (ay. 58, 60, 62).  Dalam perikop terakhir pasal 9 ini ada 3 orang yang mau mengikut Tuhan tapi terkendala dengan berbagai hal. Orang pertama, mau mengikut Tuhan tapi pikir2 tentang untung rugi meninggalkan kenyamanan hidup dan segala materi yang mengikutinya. Orang kedua, mau mengikut Tuhan tapi pikir2 tentang bakti kepada orang tua. Orang ketiga, mau mengikut Tuhan tapi masih pikir2 tentang masa lalunya. Untuk ketiga orang ini, teguran Tuhan sangat jelas. “Orang yang mau mengikut Tuhan tapi masih sering lihat2 dan membanding2kan hidup sebelum dan sesudah bersama Yesus, tidak pantas untuk ikut Tuhan.” Pertanyaan buat kita hari ini. Apakah dalam mengikut dan melayani Tuhan kita masih sering pikir2 hal-hal lain yang bisa memberatkan kita untuk total ikut Tuhan? Matius 10:37 mengatakan, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Kalau kita mau jadi yang terbesar dalam kerajaan Allah kasihilah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita.
        Jadi ibu-ibu, siapa yang terbesar dalam kerajaan Allah? Dia adalah orang yang tidak melawan pelayan Allah, yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan yang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budinya. Selamat menjadi yang terbesar. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Bangun Tembokmu

Bangun Tembokmu

(Neh 2:11-20)

 

Nehemia adalah seorang Yahudi yang hidup di pembuangan, dan menduduki jabatan juru minuman raja yang kemudian diangkat  menjadi gubernur Yehuda oleh raja Persia. Dalam menduduki jabatan barunya ini, hal pertama yang Nehemia lakukan adalah dengan membangun tembok Yerusalem yang sudah runtuh. Ketahanan dan keamanan suatu kota pada masa perjanjian lama, ditentukan oleh ada atau tidak adanya tembok yang mengelilingi kota itu. Kota yang tidak memiliki tembok akan dengan mudah diserang oleh kota/negara lain. Karena itulah, ketika menjabat jabatan sebagai Gubernur, Nehemia tidak membangun perumahan, atau rumah sakit, atau bahkan dia tidak memilih wakil gubernur, dan staff-staffnya, melainkan merencanakan pembangunan tembok kota Yerusalem. Maksudnya adalah agar diketahui oleh bangsa-bangsa lain, dan orang-orang Israel yang masih berada di pembuangan, bahwa Yerusalem masih ada, dan masih kuat. Namun, sekalipun biaya dan bahan-bahan pembangunan tembok ditanggung oleh Raja Persia (Arthasasta), Nehemia tidak begitu saja bangun tembok. Ibu-ibu, dalam kehidupan kita, kita juga perlu membangun tembok. Tembok apa saja? Tembok dalam keluarga, tembok dalam pekerjaan, tembok dalam pelayanan. Tembok ini harus dapat melindungi kita dari serangan-serangan musuh yaitu setan. Yang dapat berupa berbagai macam hal. Kekuatiran, perkelahian, aturan-aturan yang mengikat, adat istiadat, kekurangan, dll. Prinsip pembangunan tembok itu harus sama dengan yang Nehemia lakukan. Ada 4 hal yang Nehemia lakukan.

Pertama, mencari tahu/menyelidiki hal-hal yang rusak/kurang (Ay. 13). Nehemia berkeliling melihat kerusakan yang terjadi atas tembok Yerusalem. Apakah Nehemia tidak tahu? Dia tahu! Pada pasal 1:3, Hanani salah satu kerabatnya sudah memberitahukan kepada Nehemia apa yang terjadi. Tapi Nehemia tidak mau terima begitu saja, tanpa melakukan pengecekan sendiri. Hal ini dia lakukan agar dia dapat tahu persis apa dan berapa dana yang dibutuhkan untuk memperbaiki tembok. Dengan memeriksa langsung kerusakan yang terjadi, Nehemia dapat menyusun rencana pembangunan dengan lebih terarah. Sebelum kita membangun tembok keluarga kita, pastikan kita tahu hal apa yang kurang/rusak dalam keluarga kita. Apakah itu rasa percaya terhadap pasangan? Ataukah itu komunikasi? Ataukah itu keterbukaan terhadap pasangan? Ataukah itu hubungan kita dan pasangan dengan Tuhan? Supaya kita tahu apa yang harus kita benahi, yang mana yang harus diperbaiki.

Kedua, menjaga kerahasiaan rencananya (ay. 12, 16). Ketika Nehemia pergi keliling, memeriksa kerusakan secara langsung, hanya beberapa orang yang ikut serta dengan dia. Setelah itupun, rencananya tidak diberitahukan kepada siapapun. Bahkan binatang yang dia gunakan untuk berkeliling pun hanya yang dia tunggangi, artinya beberapa orang yang berjalan bersama dia, kemungkinan besar tidak menggunakan kendaraan apapun (jalan kaki). Yang tahu rencananya hanya dia dengan Allah. Setelah dia pulang dari berkeliling, hanya pemerintah dan imam yang tahu tentang rencananya (ay.16). Hal ini dia lakukan agar rencananya tidak dapat digagalkan oleh orang lain. Dengan menjaga rencananya tetap rahasia dan diketahui hanya oleh orang-orang yang dapat dipercaya (lingkup dalam), Nehemia sudah meminimalisasi campur tangan negatif, intimidasi, atau provokasi dari orang lain. Setelah kita tahu apa yang rusak dalam keluarga kita, jaga kerahasiaan masalah kita dengan pasangan atau dengan anak, hanya dalam keluarga. Tidak perlu cerita kemana-mana. Kalau pun kita mau cerita, ceritakan hanya pada-orang-orang yang dapat dipercaya. Karena waktu kita menceritakan masalah dalam keluarga kita ke orang lain, kita membuka pintu untuk setan, menggunakan situasi itu untuk menghancurkan rumah tangga kita.

Ketiga, memotivasi rekan-rekan kerja (ay. 17,18). Tidak hanya mencari tahu kerusakan, dan merahasiakan rencananya, Nehemia memotivasi orang-orang yang akan bekerja bersama-sama dengan dia untuk membangun tembok. Motivasi dalam mengerjakan sesuatu sangat diperlukan. Survey membuktikan bahwa orang-orang yang bekerja dengan motivasi tinggi, akan menghasilkan hal-hal yang maksimal dan luar biasa. Kenapa? Karena salah satu kebutuhan manusia adalah untuk diakui pekerjaannya. Dengan memotivasi rekan kerjanya, Nehemia mengakui bahwa dia tidak bisa bekerja sendiri, dan rekan-rekannya pun merasa dihargai. Dari motivasi yang tinggi akan menghasilkan pengakuan dan akhirnya kesetiaan. Dalam membangun tembok rumah tangga kita, biasakan mendorong dan memberi pujian bagi pasangan dan anak kita untuk melakukan sesuatu atau setelah mereka berhasil melakukan sesuatu. Dengan demikian, pasangan dan anak kita akan menyadari dan merasakan bahwa mereka dikasihi dan diperhatikan.

Terakhir dan yang paling penting, menaruh segala rancangannya di dalam kehendak dan control Allah (ay. 20). Sekalipun rencananya hanya diberitahukan pada orang-orang yang dapat dipercaya, Nehemia tetap mendapat tantangan berupa ejekan dari sekelompok orang (ay 19). Tapi Nehemia mengerti dan percaya bahwa rencananya adalah rencana yang ditaruh Tuhan dalam hatinya (tidak dia buat sendiri, ay 12) sehingga dia memiliki kepercayaan penuh bahwa Allah yang akan membuat pembangunan tembok Yerusalem berhasil. Nehemia tidak melakukan pembangunan tembok dengan berdasarkan kepercayaan dirinya atau berdasarkan perlindungan raja, atapi berdasarkan kepercayaannya kepada Allah. Di pasal 3:1 dikatakan, pembangunan itupun ditahbiskan dahulu. Artinya, Allah dilibatkan secara langsung dalam pembangunan tembok Yerusalem. Demikian juga dalam membangun tembok keluarga kita, sekalipun kita tahu di mana kerusakannya, kita sudah menjaga kerahasiaan keluarga, kita sudah memotivasi, tapi tanpa menyerahkan kehidupan rumah tangga kita setiap harinya kepada Tuha, usaha apapun yang kita lakukan akan sia-sia. Itulah pentingnya kita membangun mezbah keluarga. Bentuk persekutuan doa keluarga, setiap hari pada jam yang sudah ditentukan, hanya untuk keluarga/seisi rumah kita bersekutu bersama-sama dengan Allah. Dengan demikian dasar/pondasi tembok kehidupan kita akan kokoh dan tahan terhadap goncangan sekuat apapun.

Jadi ibu-ibu, bangunlah tembok dalam kehidupan kita secara khusus dalam rumah tangga. Temukan apa yang salah dalam rumah tangga, rahasiakan kehidupan rumah tangga hanya di dalam rumah, berikan dorongan dan pujian bagi anggota keuarga kita, dan sertakan Allah dalam setiap hari kehidupan rumah tangga kita. Selamat membangun tembok. Tuhan Yesus memberkati. Amin

 

Tinggallah Dalam KasihKu

Remaja Oeltua, 26 Oktober 2013

Tinggallah Dalam KasihKu

(Yoh 15:9-17)

 

Ada dua orang bersaudara, sebut saja namanya Andreas dan Daniel. Orang tua mereka adalah orang terpandang dan sangat kaya. Harta kekayaan mereka termasuk uang triliunan dolar, berhektar-hektar tanah, yang digunakan untuk peternakan dan perkebunan, belum lagi berbagai alat elektronik terbaru yang ada dalam rumah mereka yang sangat besar. Orangtua mereka sangat mengasihi mereka. apa saja yang mereka perlu, apapun yang mereka minta pasti dipenuhi oleh orang tua mereka. Termasuk ketika Daniel meminta uang sebesar 1 milyar untuk dia melakukan perjalanan keliling dunia bersama beberapa temannya. Alasannya, Daniel mau melihat dunia, mau melihat keadaan negara lain, sehingga dia bisa menghargai negara tempat tinggalnya. Tapi belum sampai 5 negara yang dia kunjungi, uangnya sudah habis sehingga dia harus jadi pengamen jalanan hanya supaya dia bisa pulang. Sementara di rumah, Andreas setia mengurus peternakan. Selain karena dia dipercaya orangtuanya untuk mengawasi pekerja-pekerja, Andreas juga menyukai kuda, bahkan dia pernah meminta uang sebesar 700 juta kepada orang tuanya, hanya untuk membeli Black Stallion, seekor kuda keturunan Arab yang sangat tangguh. Sampai suatu ketika, Daniel pulang hanya dengan tas ransel kecil, yang hanya berisi paspor. Daniel bercerita, dia dirampok dan ditipu di Vietnam, di Prancis, dan di Rusia. Bahkan waktu di Rusia, dia harus makan daun dan buah2 di hutan dan sempat keracunan, karena dia sudah kehabisan uang. Waktu dia pergi, dia pergi dengan pesawat, tapi dia pulang dengan bis dari kota ke kota. Bapaknya, bertanya dengan sedih, “kenapa kamu tidak tinggal dalam kasihku?”. Sementara itu, Andreas yang mendengar cerita Daniel, menjadi murka. Dia marah karena orangtuanya masih mau menerima Daniel, yang sudah menghabiskan uang 1 milyar dengan sia-sia, bahkan menyelenggarakan pesta selamat datang. Sementara dia yang sudah mengurus peternakan, yang kuda kebanggaannya sudah menang di beberapa pertandingan dan menghasilkan uang untuk menambah kekayaan orangtuanya tidak pernah dibuatkan pesta. Kepada Andreas, bapaknya juga bertanya dengan sedih, “Kenapa kamu tidak tinggal dalam kasihku?”  Andreas dan Daniel pun merenung dan menyadari bahwa selama ini mereka memang tinggal bersama orangtua mereka tapi tidak tinggal dalam kasih orangtua mereka. Cerita ini hanyalah fiksi, perumpamaan anak yang hilang yang dimodifikasi. Tapi seperti kedua bersaudara ini, kita juga seringkali tidak tinggal dalam kasih Bapa kita di sorga. Bagaimana? Kita menyia-nyiakan kasih Allah, dengan meninggalkan Dia dan hidup sesuai dengan keinginan kita sendiri seperti Daniel (Si Bungsu)  atau dengan melakukan semua perintah Allah dengan harapan mendapatkan sesuatu, tidak dengan tulus hati karena kasih seperti Andreas (Si Sulung). Lalu bagaimana caranya agar kita tinggal dalam kasih Bapa? Dalam ayat 10 dan 12 Tuhan Yesus membuka rahasianya. Ternyata untuk tinggal dalam kasih Allah, sangat sederhana. Yaitu dengan menuruti perintah Allah dengan dasar kasih seperti Yesus. Dengan mengasihi Allah dan sesama seperti Yesus mengasihi Allah dan sesama. Tapi sederhana tidak berarti mudah. Kasih seperti Yesus bukanlah jenis kasih yang biasa berlaku di antara manusia. Kasih di antara manusia baru ada, waktu seseorang dikasihi, maka dia akan mengasihi balik. Kasih di antara manusia melibatkan nafsu. Maka terjadilah kumpul kebo. Kasih di antara manusia melibatkan harta dan materi. Maka muncullah istilah “ada uang abang sayang, tidak ada uang abang ditendang”. Lalu bagaimana mengasihi Allah dan sesama seperti Yesus?

Pertama, mengasihi dengan kasih yang berkorban (ay. 13). Karena kasihNya kepada Bapa dan manusia, Tuhan Yesus berkorban dengan menjadi manusia. Dia yang adalah pencipta harus rela turun jabatan jadi ciptaan, Dia yang adalah Raja harus rela jadi hamba dan lahir di kandang (Flp 2:6-8). Tidak akan kita temukan Tuhan Yesus minta-minta uang atau makanan pada orang lain, melainkan Tuhan Yesus memberi makan orang lain (5000 org dan 4000 org). Dan menarik seklai, Tuhan Yesus tidak pernah gembar-gembor kemana-mana kalau Dia sudah melakukan kebaikan. Dalam beberapa peristiwa, Tuhan Yesus malah melarang orang-orang yang Dia tolong untuk menceritakan tentang Dia. Tidak ada satu buku pun di dunia yang ditulis langsung oleh Tuhan Yesus. Mengasihi seperti Yesus berarti harus rela memberikan waktu, tenaga, dan dana kita untuk Tuhan dan sesama. Dan rela untuk tidak dikenal dan tidak dihargai. Mudah saja, mulai dengan memberi waktu kita untuk intim dengan Tuhan, beri persembahan yang terbaik dan tulus hati bukan sisa, dan bersedia memberi tenaga kita untuk membantu kegiatan-kegiatan pelayanan. Dan prinsip ini juga berlaku dengan hubungan kita dengan sesama.

Kedua, mengasihi dengan kasih yang tunduk (Ay. 14). Dalam seluruh Alkitab tidak ada satupun kisah atau peristiwa yang menceritakan bahwa Tuhan Yesus melawan/menolak melakukan perintah Bapa. Bahkan dalam Flp 2:8 dikatakan “…taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Dalam  Yoh 4:34, Tuhan Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Artinya, buat Tuhan Yesus, melakukan kehendak Bapa adalah hal terpenting dalam hidupNya, bahkan lebih dari makanan. Dengan kata lain, Dia bisa hidup tanpa nasi atau roti, tapi tidak bisa hidup tanpa taat melakukan perintah Bapa. Prinsip ini juga harus ada dalam hidup kita kalau kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah. Adalah lebih baik dikucilkan dan dihina oleh orang lain karena kita taat kepada Allah daripada diterima oleh orang lain tapi ditolak oleh Allah. Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita bilang kita mengasihi keluarga kita, maka kita juga harus taat pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh orangtua kita selama aturan itu sejalan dengan kebenaran firman Allah.

Ketiga, mengasihi dengan kasih yang terbuka (ay. 15). Dalam hubunganNya dengan Bapa maupun dengan murid-muridNya, Tuhan Yesus tidak memiliki rahasia. Semua rencanaNya, isi hatiNya, kerinduanNya, semuanya, diberitahukan pada Bapa dan murid-muridNya. Bahkan Dia juga berjanji juga akan memberitahukan pada kita, sahabat-sahabatNya. Abraham adalah salah satu sahabat Allah yang kepadanya diberitahukan segala rencana Allah, mulai dari masa depan keturunannya, bencana yang akan dialami Lot, bencana yang akan terjadi di masa datang bahkan akhir hidupnya. Bila kita mengasihi Allah, maka tidak ada satupun yang kita sembunyikan dari Allah. Kita sembunyikan juga Allah pasti tahu. Jadi lebih baik diutarakan ‘kan? Begitupun dengan sesama, kalau kita mengasihi orangtua kita maka jangan sembunyikan apapun. Katakan yang sebenarnya. Ungkapkan impian, isi hati, keinginan kita. Dan dengarkan mereka. karena keterbukaan harus berlaku dua arah. Bukan hanya kita yang bicara dan mereka mendengar, tapi juga sebaliknya.

Lalu, apa yang akan kita dapat ketika kita sudah mengasihi Allah dan sesama seperti Yesus? Ketika kita sudah tinggal dalam kasihNya? Pertama, Allah menjanjikan sukacita yang penuh (Ay. 11). Artinya sekalipun keadaan hidup kita sulit, kita akan tetap dpat merasa sukacita, tidak kecewa, tidak putus asa karena kita merasakan kasih Allah. Kedua, Allah menjanjikan buah yang tetap (ay. 16). Artinya berkat kecukupan fisik maupun mental. Sekalipun keadaan sulit, kita tidak akan pernah minta-minta, kita tidak akan stress, kita akan selalu dicukupkan fisik dan mental. Ketiga, Allah menjanjikan jaminan jawaban doa (ay. 16). Dia tidak akan pernah tidak menjawab doa. Dia tidak akan pernah terlambat menjawab doa. Setiap doa kita akan selalu Dia jawab tepat pada waktuNya dan berdasarkan pada kasih dan kebijaksanaanNya.

Jadi, tinggallah dalam kasih Tuhan. Kasih yang berkorban, kasih yang taat, dan kasih yang terbuka, dan nikmati janji-janji Allah. Selamat mengasihi Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Menjadi Orang yang Mengenal Allah

Dibawakan dalam PD. Oeltua Tanggal 3 Nov 2011
Menjadi Orang yang Mengenal Allah
Titus 1:16
            Ibu-ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus, pembacaan kita hari ini bicara tentang orang yang munafik. Mereka mengatakan mereka mengenal Allah, tapi perbuatan mereka tidak seperti orang yang mengenal Allah. Seperti apa orang yang tidak mengenal Allah itu?
            Pertama, mereka tidak tertib (Ay. 10). Orang-orang yang tidak tertib adalah orang yang tidka mau mentaati peraturan, baik dari manusia maupun peraturan yang berasal dari Allah. Misalnya, dia tahu bahwa tidak boleh ada Allah lain, tapi waktu ada masalah, dia tidak berdoa tapi datang ke dukun atau orang lain untuk minta bantuan. Dia tahu harus mengasihi, tapi tetap menghina orang lain. Tidak hanya itu, orang yang tidak tertib adalah orang yang TIDAK melakukan hal yang dia tahu itu baik, tetapi malah melakukan hal yang dia tahu tidak baik. Misalnya dia tahu kalau mandi 2 kali sehari baik bagi kesehatan, tapi jangankan 2 kali, 1 kali saja tidak. Atau, dia tahu merokok itu dapat merusak kesehatan, tapi rokok habis 1 bungkus 1 hari.
            Kedua, mereka seperti binatang buas (ay. 12). Artinya, mereka memperlakukan sesamanya sesuka hatinya. Tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain; mementingkan diri sendiri, dan merupakan orang yang suka memaksakan kehendaknya. Misalnya, dia tahu kalau dia menghina orang, orang itu akan sakit hati, tapi dia tetap menghina, yang penting hatinya puas.
            Ketiga, mereka pemalas (ay. 12). Orang jenis ini adalah orang yang membiarkan orang lain yang bekerja, tapi dia yang ambil keuntungannya. Sehingga, orang yang bekerja itu tidak dapat apa-apa. Misalnya, anak kita yang kerja susah payah, tapi uang gajinya kita ambil semua untuk kita, sementara anak kita itu tidak dapat apa-apa.
            Keempat, mereka mendahulukan adat dan tradisi daripada Tuhan. Orang jenis ini akan ikut apa kata mama, kata nenek, kata kakek yang semua itu cuma kebiasaan dari dulu, dan ternyata dilarang oleh Firman Tuhan. Tapi mereka tidak peduli dengan Firman Tuhan, mereka tetap buat kebiasaan itu.
            Orang-orang yang tidka tertib, seperti binatang buas, pemalas, dan mendahulukan adat disebut “menyangkal bahwa mereka mengenal Allah.” Kenapa? Karena orang-orang yang sungguh mengenal Allah akan hidup seperti Allah –tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijkasana, adil, saleh, dapat menguasai diri, berpegang pada Firman Tuhan (ay. 7-9). Tuhan tidak butuh orang yang rajin ke gereja kalau dia tidak pernah melakukan Firman Tuhan. Yang Tuhan perlu adalah orang-orang yang setia melakukan FirmanNya. Kalau kita sudah setia melakukan Firman Tuhan, orang lain akan melihaat kita sudah berubah dan Allah dimuliakan. Selamat mengenal Allah. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.

RENEWED

Dibawakan pada PD. Oeltua tanggla 5 Januari 2012
RENEWED
Kolose 3:12, 14
Ibu-ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, banyak orang sewaktu memasuki memasuki tahun baru, hal pertama yang mereka lakukan adalah sebuah rencana-rencana baru. Mereka bertekad kalau tahun baru harus lebih baik dari tahun ini. Tapi sayangnya bayak orang uang memperhatikan hal-hal yang lahiriah, seperti gajinya naik atau tidak, pendapatannya makin banyak atau tidak, penampilannya semakin baik atau tidak, dipandang dan dihormati orang atau tidak, semua hal yang bersifat sementara.hampir tidak ada yang memikirkan soal hidu[ rohaninya. Apakah imannya akan lebih baik? Apakah ia akan lebih mengenal Tuhan, bagaimana agar dia bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, bagaimana dia melayani Tuhan dengan apa yang ada? Sebagai orang percaya kita harus sadar, waktu kita masuk dalam tahun yang baru, semuanya hanya karena anugerah Tuhan. Karena itu kita juga harus menghargai anugerah itu dengan melakukan kehendak Tuhan.
Kehendak Tuhan yang pertama adalah, agar kita hidup dengan belas kasihan dan kemurahan. Kemurahan adalah adalah suatu rasa belas kasih terhadap orang Kristen yang menderita masalah fisik, mental atau emosional dan mewujudkannya dalam perbuatan yang dilakukan dengan senang hati yang mencerminkan kasih Kristus, merigankan penderitaan orang-orang yang dilayani. Jadi, orang yang hidup dengan belas kasihan dan kemurahan tidak mungkin menaruh dendam terhadap orang-orang yang bersalah kepada mereka. Mereka tidak mugnkin, menjauhi dan memandang rendah orang-orang yang secara fisik, keuangan, maupun mental tidak lebih baik dari mereka. Melainkan, mereka akan berdoa, memperhatikan dan menolong orang-orang ini.
Kedua, Tuhan berkehendak supaya kita hidup dengan kerendahan hati dan kelemahlembutan. Rendah hati artinya tidak sombong atau angkuh, tidak meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Sehingga, orang yang rendah hati dan lemah lembut akan mampu mengampuni orang lain. Bagi dia mengampuni adalah sebuah kebiasaan. Kalau dia tidak mengampuni, dia akan merasa sakit atau ada yang kurang atau salah. Dia juga bersedia ditegur. Dia akan menerima kesalahannya tanpa banyak alasan ini dan itu. Orang yang rendah hati kuga adalah orang yang akan menjaga perkataannya agar tidak menyakiti orang lain dan tidak mudah bersumpah. Karena dia tahu bahwa dia hanya manusia biasa hasil ciptaan Tuhan sehingga tidak layak untuk bersumpah atas apapun juga. Dia akan selalu mendahulukan Tuhan di atas tradisinya, di atas pekerjaannya, di atas keluarganya, bahkan di atas dirinya sendiri.
Ketiga, Tuhan berkehendak supaya kita hidup dalam kesabaran. Orang yang sabar bukan hanya dapat mengendalikan amarahnya, tapi juga orang yang tekun dan rajin dalam segala hal. Terutama dalam berdoa dan bersaat teduh. Dia tidak akan cepat bosan dan menyerah samapi doanya dikabulkan oleh Tuhan. Sampai keinginannya dipenuhi oleh Tuhan. Dia tidak akan hitung-hitung waktu yang sudah dia berikan untuk berdoa dan bersaat teduh.
Dan kesemuanya ini baru dapat dilakukan apabila pertama-tama kita punya kasih (ayat 14). Kasih adalah kekuatan luar bisa yang membuat keluarga semakin hangat dan harmonis. Kasih menutupi kesalahan siapapun, termasuk pasangan dan anak-anak kita. Karena seseorang punya kasih, maka dia bisa hidup dalam belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.

Rasul Paulus dalam pembacaan kita sore ini mengatakan bahwa kita dalah orang-orang yang dipilih, dikuduskan dan dikasihi Allah. Kita adalah orang-orang yang dibaharui oleh Allah dan menjadi ciptaan yang baru. Tahun baru dan ibadah perdana ini adalah kesempatan kita untuk melihat kembali diri kita. Apakah kita benar-benar sudah hidup sebagaimana ciptaan baru harus hidup? Atau hidup kita sama saja dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah? Kita harus meningkatkan kualitas hidup kita sebagai pengikut Yesus, janagn biarkan dosa masa lalu menguasai kita. Mungkin tahun lalu kita belum bisa idup dalam kasih yang memampukan kita untuk berbelas kasih, lemah lembut, rendah hati, murah hati dan sabar. Kita masih sering kalah dengan pancingan dosa. Tapi tahun ini kita harus menang dari dosa. Milikilah cara hidup orang yang dipilih, dikuduskan dan dikasihi Allah, yaitu penuh kasih yang memampukan kita untuk hidup dengan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Kemenangan Tuhan menyertai kita semua. Selamat menjalani hidup sebagai ciptaan baru. Tuhan Yesus memberkati Amin.

Kunci Keberhasilan

Dibawakan pada PD Oeltua Tgl 18 Juli 2012
Kunci Keberhasilan
(Ezra 7:6-10)
            Ibu-ibu yang terkasih dlm Tuhan Yesus Kristus, Barrack Obama adalah seorang presiden Amerika. Sebagai seorang presiden, dia adalah orang yang sangat sibuk. Siang hari ada di negaranya, mungkin sore hari  harus terbang ke negara yang lain. Malam harinya, harus kembali lagi ke negaranya. Dibandingkan dengan dia, kesibukan kita jadi tidak ada artinya. Tapi ternyata, dalam kesibukannya yang luar biasa itu, ada satu kebiasaan yang selalu dia lakukan secara teratur dan tidak pernah dia lupakan, yang menurutnya membuat dia dapat menjadi pemimpin yang bijaksana. Kebiasaannya itu adalah bersaat teduh di pagi hari. Setiap pagi, sebelum melakukan aktivitasnya, bahkan sebelum mandi, Barrack Obama selalu berdoa pagi, membaca Alkitab, dan merenungkannya. Tidak hanya Obama, Abraham Lincoln, presiden Amerika yang lain juga pernah berkata, “keberhasilanku dalam satu hari ditentukan oleh satu jam pertamaku bersama Tuhan hari itu”. Kedua presiden Amerika ini hanya dua contoh dari banyak presiden Amerika yang mengutamakan persekutuannnya dengan Allah dan menjadi pemimpin yang berhasil. Hari ini kita belajar dari seorang pemimpin yang berhasil seperti Obama dan Abraham Lincoln bernama Ezra.
            Ezra adalah seorang imam dari keturunan Zadok. Ia termasuk di antara bangsa Yahudi yang dibuang di Babel pada masanya. Dikatakan dalam ayat 6 Allah melindungi Ezra dan raja memberikan segala apa yang diinginnya. Ungkapan “segala” di sini sangat luas artinya. Dapat juga disamakan dengan “semua” atau “terserah yang diinginkan”. Ezra punya kebebasan dalam hal-hal yang ia inginkan, bahkan kalau kita baca pasal-pasal selanjutnya, kita akan menemukan bahwa Ezra adalah orang yang disegani dan dihormati oleh seluruh rakyat Israel bahkan di Persia. Apa yang menyebabkan dia dapat melakukannya?
            Pertama, mari kita perhatikan ayat 6. Dikatakan bahwa Ezra ahli kitab dan ia mahir dalam Taurat Musa. Ezra dapat berhasil karena dia ahli dan mahir Firman Tuhan. Dia dapat menjadi seorang ahli kerena dia mempelajarai sungguh-sungguh kitab Taurat, bukan hanya sekedar baca, tapi dia menyelidiki, mempelajari Taurat itu dan diadapat menjadi mahir karena dia menjadikan Taurat sebagai santapan rohani yang tiap-tiap waktu harus ia baca dan renungkan. Tidak ada seorangpun yang menjadi ahli dan mahir dalam kitab Taurat tanpa ia mau membaca dan menelitinya. Dan ini adalah salah satu kunci bagaimana Ezra akhirnya dilindungi Allah dan memperoleh kasih dari raja yang berasal dari bangsa yang tidak mengenal Allah. Belajar dari Ezra, kita juga harus membaca Firman Tuhan agar kita dapat mengerti kehendak Allah. Bukan hanya sekedar membaca, tapi mempelajarinya, menelitinya, merenungkannya. Sehingga saat ada ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, kita bisa tahu dan tidak terpengaruh. Jadikan Firman Tuhan makanan yang harus kita baca dan renungkan tiap hari.
            Kunci kedua keberhasilan Ezra terletak pada ayat 10. Dikatakan bahwa Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel. Tekad adalah suatu kemauan yang kuat yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun. sekalipun tidak punya uang, tidak punya makanan, dimusuhi orang, dihina orang, apapun. Dia tetap meneliti, melakukan, dan mengajar Taurat Tuhan. Ezra tidak berhenti samapi merenungkan Firman Tuhan tapi juga melakukannya. Yakobus 1:22 mengatakan “…hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika demikian kamu menipu diri sendiri.” Jangan berhenti sampai membaca. Jangan katakan hari ini saya sudah baca Alkitab, sudah selesai. Tapi harus dilakukan juga, karena kita semua adalah surat Kristus. Orang mengenal Kristus bukan dari apa yang kita baca, tapi dari apa yang kita lakukan (2 kor 3:3). Dan tidak berhenti sampai dilakukan, tapi juga harus diajarkan kepada orang lain. Tapi Yakobus memberi peringatan bagi kita bahwa seorang guru akan dihakimi dengan lebih berat. Karena itu kita harus meneliti dan mengerti dengan benar lebih dulu tentang Firman Tuhan sebelum mengajarkannya kepada orang lain. Ketiga hal ini, yaitu meneliti, melakukan dan mengajarkan harus didasari oleh tekad yang kuat, yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun.
            Jadi ibu-ibu, kalau kita mau berhasil dalam setiap hal dalam hidup kita, dan terlebih kalau kita mau disenangi Allah dan manusia, jadilah ahli dan mahir dalam firman Tuhan, dengan menjadikannya makanan kita setiap hari. Dan milikilah tekad yang kuat untuk meneliti, melakukan dan mengajarkan Firman itu setiap hari. Selamat meneliti Firman dan menjadi berhasil. Tuhan Yesus memberkati. Amin.