Mengendalikan Lidah

Dibawakan dalam PD. Oeltua pada Tanggal 1 Dec 2011

Mengendalikan Lidah

Amsal 10:19-20

            Ibu-ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, dalam Amsal 10 ini ada 10x kata mulut, bibir dan lidah disebutkan; sedangkan dalam seluruh Alkitab kata lidah disebutkan sebanyak 36x, kata bibir 26x dan kata mulut 42x. Artinya, mulut, bibir, dan lidah adalah organ tubuh manusia yang harus sangat diperhatikan penggunaannya. Pembacaan kita hari ini mengatakan bahwa dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran (ay 19a). Artinya, ketika terlalu banyak bicara, sewaktu marah misalnya, secara tidak sadar, yang keluar dari mulut kita bukan lagi berkat tapi kutuk. Bukan lagi pujian tapi hinaan. Atau ketika kita terlalu lama berkunjung ke rumah seseorang dan terlalu lama berbincang, maka biasanya pembicaraan akan menyimpang ke hal-hal yang tidak benar, baik itu meninggikan diri sendiri, berbohong, atau membicarakan orang lain.

Kita pernah mendengar peribahasa, tong kosong nyaring bunyinya. Artinya, biasanya orang yang banyak bicara, otaknya tidak terlalu pintar. Karena itu ayat 19b mengatakan, “siapa yang menahan bibirnya berakal budi.” Kalau tadi orang yang banyak bhicara biasanya bodoh, orang yang pintar dan bijaksana akan memperhatikan perkataannya. Dia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Dan sewaktu dia berbicara pun, dia akan menggunakan bahasa yang lembut, membangun, dan tidak menyakiti orang lain.

Ayat 20 mengatakan,”lidah orang benar seperti perak pilihan..” Jika kita percaya kepada Tuhan Yesus, maka kita harus menggunakan mulut, bibir, lidah kita sebagai barang berharga, seperti perak. Jika kit apunya kalung emas misalnya, tidak mungkin kita pakaikan kalung itu di leher anjing kita bukan? Demikian juga lidah kita, tidak boleh digunakan untuk mengatakan hal-hal yang menjijikan buat Tuhan, seperti berkata bohong, sombong, membicarakan orang lain, menghina orang, ataupun mengutuk orang.

Ada 3 saringan yang dapat kita gunakan untuk mengawasi perkataan kita agar orang dapat menilai bahwa kita adlah orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan bijaksana. Pertama, sebelum kita berbicara, cek dulu apakah hal yang akan kita katakana itu adalah hal yang baik untuk orang lain. Jika itu akan menyakiti, mempermalukan dan menghina orang lain, jangan kita katakan.

Kedua, cek apakah yang akan kita katakan itu hal yang benar. Jika itu merupakan kebohongan, apalagi agar kita dipandang baik oleh orang lain, jangan katakan!

Ketiga, cek apakah hal itu bermanfaat. Jika itu malah akan merendahkan orang lain atau tidak menjadi berkat dan tidak ada manfaatnya sama sekali, jangan katakan! Sebaliknya, jika yang akan kita katakan itu adalah hal yang baik, benar dan bermanfaat, katakanlah, maka dengan itu Allah akan dimuliakan.

Jadi, saringlah perkataan kita agar kita tidak berbuat dosa dan gunakanlah lidah kita untuk kemuliaan Tuhan. Selamat mengendalikan lidah. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.

Advertisements

Natal Itu Berbagi (Yoh 3:16)

Dibawakan pada Ibadah Natal Bakrie Grup 14 Jan 2018

Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, bila kita mendengar kata “Natal”, maka yang ada dalam pikiran kita biasanya perayaan. Mulai dari awal Desember sampai akhir Januari, orang Kristen disibukkan dengan berbagai hal dalam rangka menyambut dan merayakan Natal. Dekorasi meriah di mana—mana; acara yang sepertinya tidak ada habisnya; bahkan di beberapa daerah diisi juga dengan mabuk dan pesta pora.  Seakan hari Natal memberikan alasan untuk berpesta. Tapi apa sebenarnya kata Alkitab tentang Natal? Dalam pembacaan kita hari ini ada 3 hal yang menjadi esensi Natal.

Pertama, Natal berbicara soal kasih (16a). Firman Tuhan berkata HANYA karena kasih, maka Tuhan mengerjakan karya keselamatan bagi manusia. Karena kasih, Bapa mengutus PutraNya. Karena kasih Tuhan Yesus bersedia taat sampai mati. Bahkan karena kasih juga Roh Kudus tidak meninggalkan kita sampai detik ini. Merayakan Natal berarti mengakui Kasih Tuhan terhadap manusia sekaligus melanjutkan kasih itu kepada manusia yang lain. Pada Natal pertama, Yesus yang adalah Raja di atas segala raja bersedia membagi diriNya dengan gembala, kelompok orang yang saat itu termasuk kelompok yang tidak dianggap, tapi juga Dia bersedia membagi diriNya kepada para Majus, kelompok orang yang memiliki kedudukan dan kekuasaan. Lewat kelahiranNya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa kasihNya berlaku untuk semua orang dari semua golongan. Tidak hanya itu, di akhir pelayananNya di dunia, Dia memerintahkan untuk membagikan apa yang sudah Dia ajarkan kepada seluruh dunia. Kasih Tuhan tidak pernah didesign untuk dirasakan dan dialami sendirian. Kasih Tuhan di design untuk dibagikan. Seorang murid Kristus wajib untuk berbagi. Tema Natal tahun ini adalah Natal itu Berbagi. Benar! Tapi apakah berbagi hanya dilakukan pada saat momen Natal saja? Tidak! Identitas orang Kristen adalah Terang dan Garam dunia. Artinya kehidupan orang Kristus harus memiliki dampak bagi sekitarnya. Mungkin di Antara kita ada yang berkata, bagaimana dapat berbagi kalau hidup kita ada dalam keterbatasan. Ingatkah kita tentang seorang janda yang memberi persembahan sebesar 2 peser? Tuhan Yesus memuji tindakan janda miskin ini. Dia memberi dari keterbatasannya. Bahkan dikatakan, dia memberikan seluruh nafkahnya. Kepada orang yang berani memberi dari keterbatasannya, Tuhan Yesus berkata berbahagialah karena mereka akan diberi kemurahan. Tuhan tidak pernah berhutang. Setiap tindakan kasih yang kita lakukan untuk orang lain, kita lakukan untuk Tuhan. Dan Tuhan akan membalasnya pada waktunya.

Kedua, Natal berarti pengorbanan (16b). Yesus adalah Tuhan. Dia adalah penguasa alam semesta. Dia adalah pencipta dari segala-galanya. Tapi karena kasihNya, Dia bersedia mengorbankan kemewahan, hak istimewaNya dalam Kerajaan Sorga, dan memilih menjadi sama dengan ciptaanNya. Bahkan di Natal pertama di Betlehem, Dia tidak memilih lahir di dalam istana, yang dengan segala kedaulatanNya dapat dengan mudah Dia lakukan. Dia memilih untuk lahir dalam kandang, dari orang tua yang juga bukan orang kaya. Dia mengorbankan tahtaNya hanya supaya manusia dapat menikmati KerajaanNya. Bahkan misiNya di dunia diakhiri dengan mengorbankan nyawaNya sendiri di kayu salib. Bagaimana dengan kita? Sudah berapa Natal yang kita lalui dalam hidup kita? 14? 17? 30? 50? Pengorbanan apa yang sudah kita berikan untuk Tuhan? Pengorbanan apa yang sudah kita lakukan untuk keluarga kita? Untuk masyarakat? Untuk perusahaan tempat kita bekerja? Untuk orang-orang di sekitar kita? Bapak/Ibu/Sdr/I, kasih memerlukan pengorbanan. Kalau kita mengasihi Tuhan, kita harus berkorban. Kalau memiliki kasih Tuhan untuk sesame, kita harus berkorban. Dan seringkali yang perlu dikorbankan bukan harta atau tenaga atau bahkan nyawa, melainkan harga diri. Ini bapak/ibu/sdr/I, adalah yang tersulit. Namun berkorban harga diri adalah yang Tuhan minta ketika kita memutuskan untuk mengikut Dia. Menyangkal diri. Sama seperti Tuhan Yesus yang meninggalkan harga diriNya sebagai Raja dan menjadi hamba, kita juga harus meninggalkan harga diri kita dan taat mengikuti segala kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Terakhir, Natal berbicara tentang pemulihan (16c). Kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus menghasilkan pemulihan. Manusia yang seharusnya binasa karena dosanya, menjadi diampuni dan mendapatkan kahidupan kekal. Hubungan yang rusak dengan Allah, dipulihkan, sehingga sekarang kita dapat dengan bebas memanggil Dia, ya Abba, ya Bapa. Bahkan pemulihan itu tidak terbatas dalam hal spiritualitas, walaupun itulah tujuan terbesar Allah. Pemulihan juga Tuhan berikan dalam setiap hubungan antar manusia. Setiap orang yang menerima Tuhan Yesus secara pribadi lahir dalam kehidupannya, akan mengalami pemulihan. Hubungan orang tua dan anak dipulihkan. Hubungan suami dan istri dipulihkan. Hubungan pimpinan dan karyawan dipulihkan. Maleakhi berkata hati bapak-bapak akan kembali kepada anak-anak, dan hati anak-anak akan kembali kepada bapak-bapak. Dosa menghasilkan kerusakan. Tapi anugerah Allah menghasilkan pemulihan. Hidup yang sulit dipulihkan menjadi berkelimpahan. Gunung masalah yang besar dipindahkan hanya dengan perkataan iman. Pemulihan adalah hasil mutlak dari kasih dan pengorbanan.

Sekarang bagaimana supaya kita dapat mengasihi, berkorban dan mendapat pemulihan? Kuncinya adalah NATAL. Undang Tuhan untuk lahir dalam hidup kita secara pribadi. Biarkan Dia yang memerintah secara berdaulat dalam kehidupan kita. Saya tidak tahu apa yang sedang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan bapak/ibu/sdr/I saat ini. Namun Firman Tuhan belum dicabut. Kasihilah Tuhan dan sesama. Berkorbanlah bagi Tuhan dan sesama. Ijinkan Tuhan lahir dan memerintah dalam kehidupan kita  masing-masing secara pribadi. Maka pemulihan akan terjadi dalam setiap segi kehidupan kita. Selamat Natal. Tuhan Yesus memberkati. Amin

Mencari Tuhan

Dibawakan pada PD Oeltua 16 Januari 2013

  

Mencari Tuhan
(Yesaya 55:6-7)
            Ibu-ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus, ada sebuah kutipan yang berbunyi, “Tuhan menciptakan manusia dengan satu lubang dalam hidupnya yang hanya dapat diisi oleh Yesus.” Kutipan ini mengandung kebenaran yang sangat dalam. Kita dapat melihat disekitar kita atau mungkin kita sendiri, banyak orang yang terikat dengan minuman keras, perjudian, perzinahan, kumpul kebo, kuasa gelap, dukun hanya agar mendapat kebahagiaan. Ada juga orang yang sangat aktif melayani, aktif ikut persekutuan-persekutuan doa, aktif berdoa di sana-sini bermaksud agar dapat merasakan kebahagiaan. Tapi kalau mereka mau jujur pada diri mereka sendiri, mereka semua tetap merasa kosong, mereka semua masih belum merasa bebas. Mereka semua masih tertekan. Kehidupan mereka terasa tanpa arti. Mereka menjalani hari demi hari hanya sebagai rutinitas dan kewajiban saja. Tidak ada gairah. Tidak bersemangat. Kenapa? Karena kekosongan dalam hidup mereka itu hanya dapat diisi oleh Tuhan Yesus. Karena Allah sungguh sangat tahu akan hal itu, maka perintahNya dalam pembacaan kita hari ini adalah untuk MENCARI TUHAN SELAMA IA BERKENAN DITEMUI. Artinya, ada suatu waktu dalam hidup kita di mana Allah tidak lagi dapat ditemui sekalipun kita mencari dengan segenap usaha kita. Di bagian lain Firman Tuhan, dikatakan bahwa akan tiba waktunya orang akan mencari ke seluruh penjuru bumi, tapi tidak dapat menemukan Firman Allah (Am 8: 12). Kapan hal itu terjadi? Ada dua kemungkinan besar. Pertama, saat waktu kita di bumi ini selesai dan kita harus menghadap Tuhan. Saat itu, segala pembelaan atau alasan kita tidak berguna lagi. Kedua, saat masa aniaya di zaman akhir sewaktu antikris berkuasa. Kita tidak tahu kapan persisnya, tapi pasti terjadi. Di kedua saat itu, berdoa saja sudah tidak dapat kita lakukan. Tapi Tuhan itu baik, sebelum kita mengalami kedua waktu itu, Dia memperingatkan kita hari ini untuk mencari Dia. Bagaimana caranya?
            Pertama, dengan berseru (ay. 6b). Berseru di sini bukan berarti hanya berdoa atau memuji Tuhan. Tapi memanggil sampai Tuhan datang menghampiri. Tidak berhenti selama belum Tuhan belum datang. Tuhan mau kita terus bertekun dalam doa sampai tiba waktunya Tuhan datang. Artinya, bukan hanya sekali atau dua kali berdoa atau sekali dua kali baca Alkitab tapi tiap hari, tiap saat, sampai waktunya kita bertemu dengan Tuhan.
            Kedua, dengan meninggalkan jalan (ay. 7a). Maksudnya, meninggalkan cara hidup kita yang memperlakukan Tuhan hanya sebagai mesin ATM tempat kita minta berkat atau budak untuk kita suruh-suruh. Meninggalkan cara hidup yang fasik. Yaitu yang bertindak, seakan-akan Tuhan tidak ada. Mungkin di pagi hari berdoa dan baca Alkitab, tapi setelah itu bergosip lagi, memaki lagi, mengutuk lagi, berbohong lagi, serakah lagi, iri hati lagi, sombong lagi, dll. Artinya bagi dia, Tuhan hanya ada waktu dia baca Alkitab dan berdoa, setelah itu Tuhan pergi. Dengan bertindak seperti itu, dia sudah menghina Tuhan. dan cara hidup seperti inilah yang Tuhan mau kita tinggalkan.
            Ketiga, dengan meninggalkan rancangan (ay. 7b). Artinya, mengubah cara pikir kita terhadap segala hal. Tidak lagi ragu tapi yakin akan janji Tuhan. Tidak lagi berpikir negatif terhadap orang lain. Tidak lagi berpikir instan (mau sesuatu harus cepat dan gampang). Tapi berpikir sesuai dengan Firman Tuhan, penuh dengan kepercayaan terhadap Tuhan dan sesama, serta tekun dan giat dalam mengerjakan pekerjaan yang Tuhan percayakan.
            Ibu-ibu, kita sudah masuk dalam tahun 2013. Tahun ini tidak akan lebih baik dari tahun lalu. Keadaan akan semakin sulit. Karena Firman Tuhan sudah memperingatkan bahwa akan ada deru perang, gempa bumi, dll tapi itu semua baru permulaan. Karena itu, hari ini Tuhan mengingatkan kita lagi untuk mencari Dia yaitu dengan berseru setiap hari sampai Dia menjawab, dengan meninggalkan cara hidup kita yang lama yang mengabaikan Tuhan, dan dengan meninggalkan pikiran-pikiran kita yang tidak benar tentang Tuhan dan sesama. Karena ingatlah akan ada suatu masa, di mana Tuhan tidak lagi mau ditemui. Manfaatkanlah hari-hari ini untuk semakin dekat dengan Tuhan dan menaati perintahnya. Selamat mencari Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Seandainya Tidak,…

Dibawakan pada Ibadah Minggu Raya GBI King of Kings, Kupang 25 April 2016

Seandainya Tidak… (Dan 3:16-18)

Dalam banyak kesempatan ketika Tuhan Yesus memulihkan seseorang, Tuhan Yesus senantiasa berkata, “Jadilah padamu sesuai dengan imanmu…”. Kunci sebuah pemulihan adalah iman. Yoh 2:5, air dapat menjadi anggur karena iman dari Maria. Mat 15:28, seorang anak dibebaskan dari ikatan setan karena iman ibunya. Luk 7:9, seorang hamba disembuhkan karena iman seorang perwira. Iman menjadi syarat mutlak dalam penurutan kita kepada Kristus.

Hari ini, kita mau belajar beriman seperti yang ditunjukkan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Iman diperlukan untuk berdoa. Kalau kita tidak punya iman kepada Yesus, tidak mungkin kita berdoa kepada Yesus. Tapi paling tidak ada 2 jenis doa yang paling sering dinaikkan oleh orang Kristen. Pertama, orang yang berdoa dengan tidak yakin apakah doanya akan dijawab atau tidak. Dia beriman kepada Tuhan Yesus, tapi tidak beriman kalau doanya akan dijawab. Kedua, orang yang berdoa dengan ngotot, seakan-akan mewajibkan Allah menjawab doanya. Dia begitu beriman bahwa Allah pasti menjawab doanya sehingga ketika Allah tidak menjawab atau menjawab tapi tidak sesuai dengan keinginan dia, dia protes. Supaya kita tidak menjadi salah satu dari dua jenis orang ini, kita dapat belajar dari doa penuh iman yang dinaikkan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.

Tidak perlu ditanya lagi, ketiga pemuda ini pasti ingin diselamatkan dari perapian yang menyala-nyala. Dalam ayat 17, mereka penuh iman, sangat yakin bahwa Allah sanggup melepaskan mereka. Menariknya, mereka menambahkan catatan, “tetapi seandainya tidak…” (ay. 18). Ini membuktikan kesejatian iman mereka. Kenapa?

Pertama, “tetapi seandainya tidak” adalah pengakuan nyata tentang tak terbatasnya hikmat Allah. Ketika pembuangan ke Babel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, tidak hanya kehilangan Negara mereka. Tapi juga kehilangan identitas. Dan 1:4, cara berpikir mereka diubah menjadi sesuai dengan cara berpikir orang Kasdim. Dan 1:5, cara hidup mereka diubah. Dan 1:6, cara ibadah mereka juga diubah dengan berubahnya nama mereka. Namun, dalam keadaan yang sulit seperti itu, ketetapan hati mereka tidak berubah. Bahkan semakin kuat di dalam Tuhan. Yesaya 55:8-9 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengerti betul tentang hal ini. Mereka beriman bahwa Allah sanggup menyelamatkan mereka, tapi mereka juga mengakui bahwa Allah jauh lebih bijaksana daripada mereka. Sekalipun di mata manusia mereka disebut sebagai orang-orang yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan mempunyai pengertian tentang ilmu (Dan 1:4), dihadapan Allah mereka tetap kurang bijaksana. Mereka sadar jika ternyata pada saat itu Allah mengijinkan mereka untuk mati terbakar, maka pasti ada maksud Allah yang lebih indah. Mereka juga menyadari bahwa cara penyelamatan Allah tidak selalu dapat dimengerti oleh manusia. Demikian juga dengan kita, tidak peduli, setinggi apapun pendidikan kita, sebanyak apapun pengalaman kita, seberpengaruh apapun jabatan kita, kebijaksaanaan kita tidak sebanding dengan kebijaksanaan Tuhan. Kita tidak dapat mengerti dengan sempurna rencana Allah dalam hidup kita. Seringkali apa yang kita dapatkan tidaklah sesuai dengan keinginan kita. Pada saat kita menghadapi situasi seperti itu, mungkin kita tidak dapat melihat kenapa itu terjadi? Seringkali pertanyaanlah yang keluar dari mulut kita. Bukan penyerahan. Tapi setelah semuanya terlewati, barulah kita dapat melihat rancangan Allah yang baik buat kita.

Kedua, “seandainya tidak” adalah pembuktian bahwa Allah dan hubungan pribadi dengan Allah jauh lebih penting dari apapun. Kasus yang akhirnya membawa 3 sekawan ini menghadap pengadilan raja, bukanlah kasus pencurian, atau pembunuhan, atau bahkan makar. Tapi kasus yang berdasarkan pada kehidupan rohani 3 sekawan ini. Mereka memilih untuk tetap menyembah Allah Israel, dan karena itu mereka ditangkap dan diancam hukuman mati. Bukan sebuah kasus yang pantas dihukum mati. Tapi itulah yang mereka hadapi. Kesetiaan mereka kepada Allah Israel dinyatakan lewat kesetiaan mereka menyembah 3 kali sehari seperti ketika mereka masih di Yerusalem. Sadrakh, Mesakh dan Abednego membuktikan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup mereka tidak akan mempengaruhi hubungan mereka dengan Allah. Bahkan apabila mereka harus kehilangan nyawa karena itu. Paulus, beribu tahun setelah itu, menyatakan dalam Rom 8:38-39 “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. Keyakinan inilah yang akhirnya membuat Paulus kuat dalam penurutannya kepada Kristus sampai mati. Dalam sebuah film rohani, diceritakan ada seorang profesor atheis yang benar-benar percaya bahwa Allah sudah mati. Dalam kelasnya dia selalu memaksakan mahasiswanya untuk mengikuti pandangannya itu. Ternyata dia menjadi atheis karena mamanya meninggal pada saat dia masih kecil. Peristiwa itu yang membuat dia tidak lagi mempercayai Tuhan. Bagaimana dengan kita? Seringkali ketika diperhadapankan pada situasi yang menyesakkan dan seakan Tuhan tidak menjawab doa kita, kita tidak lagi melihat pada kasih Allah, melainkan fokus kepada masalah kita. Kasih kita kepada Tuhan hanya diukur lewat seberapa cepat Tuhan mengabulkan doa kita. Seberapa banyak mujizat yang Tuhan lakukan bagi kita. Bukan lagi pada pribadi Allah itu sendiri. Ketika iman kita berdasarkan pada mujizat saja, maka kita pasti kecewa. Bangsa Israel adalah contoh yang sempurna untuk itu. Begitu banyak mujizat yang mereka alami dalam perjalanan mereka keluar dari mesir. Tapi baru saja dapat air yang pahit, mereka sudah mengeluh dan menghina Tuhan. Bp/Ibu, Tuhan mungkin tidak menjawab doa kita sebagaimana keinginan kita tapi itu karena Dia mau supaya PribadiNya menjadi yang lebih penting dalam hidup kita. bukan mujizatNya. “Kadang Tuhan tidak mengubah situasi kita karena Tuhan mau mengubah hati kita”. Teladani 3 sekawan ini. Apapun jawaban keyakinan mereka, tidak mengubah pentingnya Pribadi Allah dalam hidup mereka.

Ketiga, “seandainya tidak” adalah bentuk kerendahan hati untuk menempatkan diri di bawah kedaulatan kehendak Tuhan. Amsal 19:21 Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menyerahkan keputusan akhir sepenuhnya ditangan Tuhan. Mereka dengan rendah hati mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang dengan demikian memiliki hak penuh atas hidup mereka. Beribu tahun kemudian, dalam doa di taman Getsemani Tuhan Yesus meneladankan iman yang sama, iman yang penuh penyerahan diri, “bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”. Iman yang tidak hanya menantikan jawaban doa, tetapi terutama merindukan agar kehendak Tuhan yang terjadi. Doa bapa kami, Mat 6:10 “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Artinya, Tuhan yang berdaulat dan kehendakNyalah yang harus (bukan sebaiknya atau seharusnya) yang terjadi. Bukan suatu kebetulan Tuhan Yesus mengajarkan doa ini. Dia mau supaya kita, anak-anakNya memiliki kerendahan hati menundukkan diri dibawah kehendakNya. Bapa/Mama yang terkasih, pada saat doa kita tidak dikabulkan, respon kita menunjukkan kualitas iman yang kita miliki. Tuhan pasti sanggup, tapi bahkan jika Ia tidak bersedia berbuat seperti keinginan kita pun, itu tetap langkah terbaik. Selamat beriman. Tuhan Yesus memberkati. Amin

Siapa yang Terbesar?

Siapa yang Terbesar?
(Luk 9:46-48)
        Ibu-ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, orang yang pantas mendapat label atau predikat “terbesar” menurut ukuran dunia, adalah mereka yang punya kedudukan, punya banyak uang, punya kekuasaan yang besar, atau yang punya banyak anak buah atau pengawal. Tidak jarang kita lihat atau mungkin alami, seseorang dipuja dan dituruti segala kemauannya karena posisinya yang tinggi dalam perusahaan, masyarakat, atau bahkan gereja. Atau orang yang menuntut untuk dihormati, dituruti segala perintahnya, ditanya pendapatnya karena posisinya. Tapi hari ini, firman Tuhan menunjukkan bahwa orang yang “terbesar” menurut Allah tidaklah sama dengan criteria dunia. Orang yang terbesar dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang rela menjadi yang terkecil diantara sesama (ay. 48). Bagaimana ciri orang yang rela menjadi yang terkecil itu? Lukas mencoba menerangkan lewat 3 peristiwa di 3 perikop selanjutnya.
Pertama, mereka adalah orang yang tidak melawan Allah (ay. 50). Saat itu murid2 Yesus sedang sibuk meributkan siapa yang terbesar di antara mereka yang layak memangku sebuah jabatan penting saat Yesus memerintah sebagai Mesias. Karena mereka berpikir, kalau Yesus adalah Mesias, maka Yesus akan mengusir penjajah romawi dari Israel, dan membangun kerajaan baru. Dan kalau Yesus jadi raja, pastilah akan ada yang jadi perdana menteri, dan orang ini tidak mungkin dari luar kelompok murid. Pasti dari antara mereka. Karena itu, murid-murid Yesus merasa superior, lain dari yang lain, paling benar, dan istimewa. Karena superioritas itu, murid2 Yesus merasa perlu untuk mencegah orang lain melayani pengusiran setan sekalipun dengan nama Yesus. Mungkin sewaktu mereka lapor sama Yesus kalau mereka mencegah orang lain di luar murid2 untuk mengusir setan, mereka mengharapkan pujian dari Yesus. tapi ternyata jangankan dipuji, mereka justru ditegur oleh Yesus. “Barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu”. Seringkali kita seperti murid-murid. Karena kita aktif dalam pelayanan, atau kita punya talenta, atau kita punya kedudukan dalam masyarakat atau bahkan gereja. Kita mulai melarang orang lain untuk melayani Tuhan. Kita mulai menghakimi gereja A sesat, persekutuan B sesat, dll. Waktu kita lakukan itu mungkin kita merasa kita benar, tapi lihatlah murid2 Yesus, bukan pujian yang mereka dapat, melainkan teguran. Kalau kita mau jadi yang terbesar dalam kerajaan Allah, jangan lawan orang yang melayani demi nama Tuhan Yesus, karena bisa jadi kita melawan Tuhan sendiri, tetapi bekerjasamalah membangun kerajaan Allah.
        Kedua, orang yang terbesar dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (ay. 54-55). Dalam perjalanan ke Yerusalem untuk disalib, Tuhan Yesus beserta murid-muridNya harus melewati daerah Samaria. Orang Samaria dan orang Israel bermusuhan karena orang Samaria kawin campur dan menyembah allah lain. Sebelum Tuhan Yesus sampai di desa Samaria, utusan-utusan yang dikirim oleh Yesus, kembali dan memberitahu bahwa mereka ditolak oleh orang Samaria. Secara manusia,  wajar kalau kemudian murid-murid Yesus murka dan mau mengirim api dari langit. Karena mereka teringat kisah Elia yang meminta api dari langit untuk membakar 2 orang perwira dan 100 anak buah mereka yang diutus raja Ahazia untuk menolak Elia sebagai hamba Tuhan. Lagi-lagi, bukannya dipuji karena keinginan mereka untuk membela Yesus, Yesus berpaling dan menegur murid2Nya. Bagaimana dengan kita ? bukankah kita juga sering mengutuk orang lain yang menolak kita? Mungkin bukan dengan terus terang bilang “saya kutuk kamu…bla..bla…bla” Tapi mungkin kutukan itu keluar dari mulut kita dalam bentuk doa. Familier dengan bunyi doa begini? “Tuhan saya mengampuni si A, biar Tuhan saja yang balas perbuatannya sama saya.” Ibu-ibu, itu adalah kutukan yang tersamar. Tapi tetap saja kutuk. Orang yang terbesar dalam kerajaan Allah tidak boleh seperti itu. Melainkan harus mengampuni dan mengasihi sepenuh dan setulus hati.
        Orang yang terbesar dalam kerajaan Allah yang ketiga adalah orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (ay. 58, 60, 62).  Dalam perikop terakhir pasal 9 ini ada 3 orang yang mau mengikut Tuhan tapi terkendala dengan berbagai hal. Orang pertama, mau mengikut Tuhan tapi pikir2 tentang untung rugi meninggalkan kenyamanan hidup dan segala materi yang mengikutinya. Orang kedua, mau mengikut Tuhan tapi pikir2 tentang bakti kepada orang tua. Orang ketiga, mau mengikut Tuhan tapi masih pikir2 tentang masa lalunya. Untuk ketiga orang ini, teguran Tuhan sangat jelas. “Orang yang mau mengikut Tuhan tapi masih sering lihat2 dan membanding2kan hidup sebelum dan sesudah bersama Yesus, tidak pantas untuk ikut Tuhan.” Pertanyaan buat kita hari ini. Apakah dalam mengikut dan melayani Tuhan kita masih sering pikir2 hal-hal lain yang bisa memberatkan kita untuk total ikut Tuhan? Matius 10:37 mengatakan, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Kalau kita mau jadi yang terbesar dalam kerajaan Allah kasihilah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita.
        Jadi ibu-ibu, siapa yang terbesar dalam kerajaan Allah? Dia adalah orang yang tidak melawan pelayan Allah, yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan yang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budinya. Selamat menjadi yang terbesar. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Bangun Tembokmu

Bangun Tembokmu

(Neh 2:11-20)

 

Nehemia adalah seorang Yahudi yang hidup di pembuangan, dan menduduki jabatan juru minuman raja yang kemudian diangkat  menjadi gubernur Yehuda oleh raja Persia. Dalam menduduki jabatan barunya ini, hal pertama yang Nehemia lakukan adalah dengan membangun tembok Yerusalem yang sudah runtuh. Ketahanan dan keamanan suatu kota pada masa perjanjian lama, ditentukan oleh ada atau tidak adanya tembok yang mengelilingi kota itu. Kota yang tidak memiliki tembok akan dengan mudah diserang oleh kota/negara lain. Karena itulah, ketika menjabat jabatan sebagai Gubernur, Nehemia tidak membangun perumahan, atau rumah sakit, atau bahkan dia tidak memilih wakil gubernur, dan staff-staffnya, melainkan merencanakan pembangunan tembok kota Yerusalem. Maksudnya adalah agar diketahui oleh bangsa-bangsa lain, dan orang-orang Israel yang masih berada di pembuangan, bahwa Yerusalem masih ada, dan masih kuat. Namun, sekalipun biaya dan bahan-bahan pembangunan tembok ditanggung oleh Raja Persia (Arthasasta), Nehemia tidak begitu saja bangun tembok. Ibu-ibu, dalam kehidupan kita, kita juga perlu membangun tembok. Tembok apa saja? Tembok dalam keluarga, tembok dalam pekerjaan, tembok dalam pelayanan. Tembok ini harus dapat melindungi kita dari serangan-serangan musuh yaitu setan. Yang dapat berupa berbagai macam hal. Kekuatiran, perkelahian, aturan-aturan yang mengikat, adat istiadat, kekurangan, dll. Prinsip pembangunan tembok itu harus sama dengan yang Nehemia lakukan. Ada 4 hal yang Nehemia lakukan.

Pertama, mencari tahu/menyelidiki hal-hal yang rusak/kurang (Ay. 13). Nehemia berkeliling melihat kerusakan yang terjadi atas tembok Yerusalem. Apakah Nehemia tidak tahu? Dia tahu! Pada pasal 1:3, Hanani salah satu kerabatnya sudah memberitahukan kepada Nehemia apa yang terjadi. Tapi Nehemia tidak mau terima begitu saja, tanpa melakukan pengecekan sendiri. Hal ini dia lakukan agar dia dapat tahu persis apa dan berapa dana yang dibutuhkan untuk memperbaiki tembok. Dengan memeriksa langsung kerusakan yang terjadi, Nehemia dapat menyusun rencana pembangunan dengan lebih terarah. Sebelum kita membangun tembok keluarga kita, pastikan kita tahu hal apa yang kurang/rusak dalam keluarga kita. Apakah itu rasa percaya terhadap pasangan? Ataukah itu komunikasi? Ataukah itu keterbukaan terhadap pasangan? Ataukah itu hubungan kita dan pasangan dengan Tuhan? Supaya kita tahu apa yang harus kita benahi, yang mana yang harus diperbaiki.

Kedua, menjaga kerahasiaan rencananya (ay. 12, 16). Ketika Nehemia pergi keliling, memeriksa kerusakan secara langsung, hanya beberapa orang yang ikut serta dengan dia. Setelah itupun, rencananya tidak diberitahukan kepada siapapun. Bahkan binatang yang dia gunakan untuk berkeliling pun hanya yang dia tunggangi, artinya beberapa orang yang berjalan bersama dia, kemungkinan besar tidak menggunakan kendaraan apapun (jalan kaki). Yang tahu rencananya hanya dia dengan Allah. Setelah dia pulang dari berkeliling, hanya pemerintah dan imam yang tahu tentang rencananya (ay.16). Hal ini dia lakukan agar rencananya tidak dapat digagalkan oleh orang lain. Dengan menjaga rencananya tetap rahasia dan diketahui hanya oleh orang-orang yang dapat dipercaya (lingkup dalam), Nehemia sudah meminimalisasi campur tangan negatif, intimidasi, atau provokasi dari orang lain. Setelah kita tahu apa yang rusak dalam keluarga kita, jaga kerahasiaan masalah kita dengan pasangan atau dengan anak, hanya dalam keluarga. Tidak perlu cerita kemana-mana. Kalau pun kita mau cerita, ceritakan hanya pada-orang-orang yang dapat dipercaya. Karena waktu kita menceritakan masalah dalam keluarga kita ke orang lain, kita membuka pintu untuk setan, menggunakan situasi itu untuk menghancurkan rumah tangga kita.

Ketiga, memotivasi rekan-rekan kerja (ay. 17,18). Tidak hanya mencari tahu kerusakan, dan merahasiakan rencananya, Nehemia memotivasi orang-orang yang akan bekerja bersama-sama dengan dia untuk membangun tembok. Motivasi dalam mengerjakan sesuatu sangat diperlukan. Survey membuktikan bahwa orang-orang yang bekerja dengan motivasi tinggi, akan menghasilkan hal-hal yang maksimal dan luar biasa. Kenapa? Karena salah satu kebutuhan manusia adalah untuk diakui pekerjaannya. Dengan memotivasi rekan kerjanya, Nehemia mengakui bahwa dia tidak bisa bekerja sendiri, dan rekan-rekannya pun merasa dihargai. Dari motivasi yang tinggi akan menghasilkan pengakuan dan akhirnya kesetiaan. Dalam membangun tembok rumah tangga kita, biasakan mendorong dan memberi pujian bagi pasangan dan anak kita untuk melakukan sesuatu atau setelah mereka berhasil melakukan sesuatu. Dengan demikian, pasangan dan anak kita akan menyadari dan merasakan bahwa mereka dikasihi dan diperhatikan.

Terakhir dan yang paling penting, menaruh segala rancangannya di dalam kehendak dan control Allah (ay. 20). Sekalipun rencananya hanya diberitahukan pada orang-orang yang dapat dipercaya, Nehemia tetap mendapat tantangan berupa ejekan dari sekelompok orang (ay 19). Tapi Nehemia mengerti dan percaya bahwa rencananya adalah rencana yang ditaruh Tuhan dalam hatinya (tidak dia buat sendiri, ay 12) sehingga dia memiliki kepercayaan penuh bahwa Allah yang akan membuat pembangunan tembok Yerusalem berhasil. Nehemia tidak melakukan pembangunan tembok dengan berdasarkan kepercayaan dirinya atau berdasarkan perlindungan raja, atapi berdasarkan kepercayaannya kepada Allah. Di pasal 3:1 dikatakan, pembangunan itupun ditahbiskan dahulu. Artinya, Allah dilibatkan secara langsung dalam pembangunan tembok Yerusalem. Demikian juga dalam membangun tembok keluarga kita, sekalipun kita tahu di mana kerusakannya, kita sudah menjaga kerahasiaan keluarga, kita sudah memotivasi, tapi tanpa menyerahkan kehidupan rumah tangga kita setiap harinya kepada Tuha, usaha apapun yang kita lakukan akan sia-sia. Itulah pentingnya kita membangun mezbah keluarga. Bentuk persekutuan doa keluarga, setiap hari pada jam yang sudah ditentukan, hanya untuk keluarga/seisi rumah kita bersekutu bersama-sama dengan Allah. Dengan demikian dasar/pondasi tembok kehidupan kita akan kokoh dan tahan terhadap goncangan sekuat apapun.

Jadi ibu-ibu, bangunlah tembok dalam kehidupan kita secara khusus dalam rumah tangga. Temukan apa yang salah dalam rumah tangga, rahasiakan kehidupan rumah tangga hanya di dalam rumah, berikan dorongan dan pujian bagi anggota keuarga kita, dan sertakan Allah dalam setiap hari kehidupan rumah tangga kita. Selamat membangun tembok. Tuhan Yesus memberkati. Amin

 

Tinggallah Dalam KasihKu

Remaja Oeltua, 26 Oktober 2013

Tinggallah Dalam KasihKu

(Yoh 15:9-17)

 

Ada dua orang bersaudara, sebut saja namanya Andreas dan Daniel. Orang tua mereka adalah orang terpandang dan sangat kaya. Harta kekayaan mereka termasuk uang triliunan dolar, berhektar-hektar tanah, yang digunakan untuk peternakan dan perkebunan, belum lagi berbagai alat elektronik terbaru yang ada dalam rumah mereka yang sangat besar. Orangtua mereka sangat mengasihi mereka. apa saja yang mereka perlu, apapun yang mereka minta pasti dipenuhi oleh orang tua mereka. Termasuk ketika Daniel meminta uang sebesar 1 milyar untuk dia melakukan perjalanan keliling dunia bersama beberapa temannya. Alasannya, Daniel mau melihat dunia, mau melihat keadaan negara lain, sehingga dia bisa menghargai negara tempat tinggalnya. Tapi belum sampai 5 negara yang dia kunjungi, uangnya sudah habis sehingga dia harus jadi pengamen jalanan hanya supaya dia bisa pulang. Sementara di rumah, Andreas setia mengurus peternakan. Selain karena dia dipercaya orangtuanya untuk mengawasi pekerja-pekerja, Andreas juga menyukai kuda, bahkan dia pernah meminta uang sebesar 700 juta kepada orang tuanya, hanya untuk membeli Black Stallion, seekor kuda keturunan Arab yang sangat tangguh. Sampai suatu ketika, Daniel pulang hanya dengan tas ransel kecil, yang hanya berisi paspor. Daniel bercerita, dia dirampok dan ditipu di Vietnam, di Prancis, dan di Rusia. Bahkan waktu di Rusia, dia harus makan daun dan buah2 di hutan dan sempat keracunan, karena dia sudah kehabisan uang. Waktu dia pergi, dia pergi dengan pesawat, tapi dia pulang dengan bis dari kota ke kota. Bapaknya, bertanya dengan sedih, “kenapa kamu tidak tinggal dalam kasihku?”. Sementara itu, Andreas yang mendengar cerita Daniel, menjadi murka. Dia marah karena orangtuanya masih mau menerima Daniel, yang sudah menghabiskan uang 1 milyar dengan sia-sia, bahkan menyelenggarakan pesta selamat datang. Sementara dia yang sudah mengurus peternakan, yang kuda kebanggaannya sudah menang di beberapa pertandingan dan menghasilkan uang untuk menambah kekayaan orangtuanya tidak pernah dibuatkan pesta. Kepada Andreas, bapaknya juga bertanya dengan sedih, “Kenapa kamu tidak tinggal dalam kasihku?”  Andreas dan Daniel pun merenung dan menyadari bahwa selama ini mereka memang tinggal bersama orangtua mereka tapi tidak tinggal dalam kasih orangtua mereka. Cerita ini hanyalah fiksi, perumpamaan anak yang hilang yang dimodifikasi. Tapi seperti kedua bersaudara ini, kita juga seringkali tidak tinggal dalam kasih Bapa kita di sorga. Bagaimana? Kita menyia-nyiakan kasih Allah, dengan meninggalkan Dia dan hidup sesuai dengan keinginan kita sendiri seperti Daniel (Si Bungsu)  atau dengan melakukan semua perintah Allah dengan harapan mendapatkan sesuatu, tidak dengan tulus hati karena kasih seperti Andreas (Si Sulung). Lalu bagaimana caranya agar kita tinggal dalam kasih Bapa? Dalam ayat 10 dan 12 Tuhan Yesus membuka rahasianya. Ternyata untuk tinggal dalam kasih Allah, sangat sederhana. Yaitu dengan menuruti perintah Allah dengan dasar kasih seperti Yesus. Dengan mengasihi Allah dan sesama seperti Yesus mengasihi Allah dan sesama. Tapi sederhana tidak berarti mudah. Kasih seperti Yesus bukanlah jenis kasih yang biasa berlaku di antara manusia. Kasih di antara manusia baru ada, waktu seseorang dikasihi, maka dia akan mengasihi balik. Kasih di antara manusia melibatkan nafsu. Maka terjadilah kumpul kebo. Kasih di antara manusia melibatkan harta dan materi. Maka muncullah istilah “ada uang abang sayang, tidak ada uang abang ditendang”. Lalu bagaimana mengasihi Allah dan sesama seperti Yesus?

Pertama, mengasihi dengan kasih yang berkorban (ay. 13). Karena kasihNya kepada Bapa dan manusia, Tuhan Yesus berkorban dengan menjadi manusia. Dia yang adalah pencipta harus rela turun jabatan jadi ciptaan, Dia yang adalah Raja harus rela jadi hamba dan lahir di kandang (Flp 2:6-8). Tidak akan kita temukan Tuhan Yesus minta-minta uang atau makanan pada orang lain, melainkan Tuhan Yesus memberi makan orang lain (5000 org dan 4000 org). Dan menarik seklai, Tuhan Yesus tidak pernah gembar-gembor kemana-mana kalau Dia sudah melakukan kebaikan. Dalam beberapa peristiwa, Tuhan Yesus malah melarang orang-orang yang Dia tolong untuk menceritakan tentang Dia. Tidak ada satu buku pun di dunia yang ditulis langsung oleh Tuhan Yesus. Mengasihi seperti Yesus berarti harus rela memberikan waktu, tenaga, dan dana kita untuk Tuhan dan sesama. Dan rela untuk tidak dikenal dan tidak dihargai. Mudah saja, mulai dengan memberi waktu kita untuk intim dengan Tuhan, beri persembahan yang terbaik dan tulus hati bukan sisa, dan bersedia memberi tenaga kita untuk membantu kegiatan-kegiatan pelayanan. Dan prinsip ini juga berlaku dengan hubungan kita dengan sesama.

Kedua, mengasihi dengan kasih yang tunduk (Ay. 14). Dalam seluruh Alkitab tidak ada satupun kisah atau peristiwa yang menceritakan bahwa Tuhan Yesus melawan/menolak melakukan perintah Bapa. Bahkan dalam Flp 2:8 dikatakan “…taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Dalam  Yoh 4:34, Tuhan Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Artinya, buat Tuhan Yesus, melakukan kehendak Bapa adalah hal terpenting dalam hidupNya, bahkan lebih dari makanan. Dengan kata lain, Dia bisa hidup tanpa nasi atau roti, tapi tidak bisa hidup tanpa taat melakukan perintah Bapa. Prinsip ini juga harus ada dalam hidup kita kalau kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah. Adalah lebih baik dikucilkan dan dihina oleh orang lain karena kita taat kepada Allah daripada diterima oleh orang lain tapi ditolak oleh Allah. Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita bilang kita mengasihi keluarga kita, maka kita juga harus taat pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh orangtua kita selama aturan itu sejalan dengan kebenaran firman Allah.

Ketiga, mengasihi dengan kasih yang terbuka (ay. 15). Dalam hubunganNya dengan Bapa maupun dengan murid-muridNya, Tuhan Yesus tidak memiliki rahasia. Semua rencanaNya, isi hatiNya, kerinduanNya, semuanya, diberitahukan pada Bapa dan murid-muridNya. Bahkan Dia juga berjanji juga akan memberitahukan pada kita, sahabat-sahabatNya. Abraham adalah salah satu sahabat Allah yang kepadanya diberitahukan segala rencana Allah, mulai dari masa depan keturunannya, bencana yang akan dialami Lot, bencana yang akan terjadi di masa datang bahkan akhir hidupnya. Bila kita mengasihi Allah, maka tidak ada satupun yang kita sembunyikan dari Allah. Kita sembunyikan juga Allah pasti tahu. Jadi lebih baik diutarakan ‘kan? Begitupun dengan sesama, kalau kita mengasihi orangtua kita maka jangan sembunyikan apapun. Katakan yang sebenarnya. Ungkapkan impian, isi hati, keinginan kita. Dan dengarkan mereka. karena keterbukaan harus berlaku dua arah. Bukan hanya kita yang bicara dan mereka mendengar, tapi juga sebaliknya.

Lalu, apa yang akan kita dapat ketika kita sudah mengasihi Allah dan sesama seperti Yesus? Ketika kita sudah tinggal dalam kasihNya? Pertama, Allah menjanjikan sukacita yang penuh (Ay. 11). Artinya sekalipun keadaan hidup kita sulit, kita akan tetap dpat merasa sukacita, tidak kecewa, tidak putus asa karena kita merasakan kasih Allah. Kedua, Allah menjanjikan buah yang tetap (ay. 16). Artinya berkat kecukupan fisik maupun mental. Sekalipun keadaan sulit, kita tidak akan pernah minta-minta, kita tidak akan stress, kita akan selalu dicukupkan fisik dan mental. Ketiga, Allah menjanjikan jaminan jawaban doa (ay. 16). Dia tidak akan pernah tidak menjawab doa. Dia tidak akan pernah terlambat menjawab doa. Setiap doa kita akan selalu Dia jawab tepat pada waktuNya dan berdasarkan pada kasih dan kebijaksanaanNya.

Jadi, tinggallah dalam kasih Tuhan. Kasih yang berkorban, kasih yang taat, dan kasih yang terbuka, dan nikmati janji-janji Allah. Selamat mengasihi Tuhan Yesus memberkati. Amin.