Bapak-bapak yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, seberapa sering kita mendengar atau membaca ayat ini? Saya yakin cukup sering. Minimal satu kali seminggu, setiap ibadah minggu. Tapi seberapa sering kita benar-benar merenungkan dan melakukan ayat ini? Mungkin di antara kita ada yang berkata, “saya mengasihi sesama saya kok, saya memberi uang pada pengemis dan tukang ngamen, saya ikut mendoakan teman yang sakit atau dalam masalah, saya membantu teman yang berkekurangan. Itu berarti saya sudah mengasihi sesama saya kan?” Ya itu benar. Tapi pernahkah kita berkata kepada istri kita, “kamu ga becus jadi istri, ngurus anak aja ga bisa”, atau kepada anak kita, “kamu ga bisa dibilangin, dasar goblok, kamu kayak anak idiot yang ga ngerti dikasih tau.” Atau pernahkah kita membentak istri dan anak kita, mengancam mereka, mengatai mereka, memaksa mereka melakukan apa yang kita mau, mempermalukan mereka di depan orang lain, pernahkah kita melarang mereka bekerja, melarang mereka bergaul, atau pernahkah kita tidak terbuka terhadap istri kita mengenai pendapatan yang kita miliki, pernahkah kita menggunakan uang sesuka kita karena menganggap bahwa toh kita yang mencari uang? Bapak-bapak, bila kita pernah melakukan salah satu saja yang tadi saya sebutkan, walaupun cuma satu kali, maka kita sudah tidak mengasihi sesama kita. Malam ini kita mau belajar bagaimana mengasihi sesama yang paling dekat dengan kita, yakni istri dan anak kita dengan kasih yang benar. Ada tiga hal yang harus kita perhatikan dan kita lakukan.
Pertama, Kasih kepada sesama yang benar adalah kasih yang mengampuni. Bapak-bapak, biasanya kasih adalah sesuatu yang tidak dapat kita tahan. Kasih kepada orang-orang terdekat merupakan hal yang alami. Kasih kepada lawan jenis adalah pengalaman spontan. Kasih dunia merupakan sesuatu yang berkaitan dengan hati, tetapi kasih Kristen berkaitan dengan kehendak. Artinya, kita bisa mengasihi jika KITA MAU mengasihi. Biasanya orang Kristen, kalau ditanya kasih apa yang paling besar, pasti menjawab kasih agape. Tapi tahukah kita arti kata kasih agape itu? Agape berarti kemurahan hati yang tidak dapat ditaklukkan. Apabila seseorang memiliki agape, tidak peduli apapun yang dilakukan atau dikatakan orang lain terhadap dirinya, ia tidak akan melakukan hal lain kecuali yang terbaik bagi mereka. Ia tidak akan kesal, tidak pernah jengkel, tidak pernah mendendam, tidak pernah membenci, tidak pernah sakit hati, dan tidak pernah menolak untuk mengampuni. Tuhan Yesus sudah memberikan contoh bagi kita, bagaimana agape itu. Dia tidak membalas orang-orang yang menghina dan menyiksa Dia, tapi Dia malah berkata, “Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan Dia tetap mati buat mereka yang menyiksa Dia. Dia tetap berkorban bagi mereka. Dan hasilnya? Kepala pasukan mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah. Ada perubahan yang terjadi. Kita pun harus seperti Dia, jika istri atau anak kita membuat kita kesal, ampuni mereka, peluk mereka, tunjukkan bahwa kita mengasihi mereka, jangan takut dianggap lemah. Karena inilah yang paling sering menjadi kelemahan kaum pria. Survey membuktikan bahwa pria merasa dengan menunjukkan kasih mereka kepada keluarga mereka, mereka menjadi lemah. Padahal Tuhan Yesus juga pria, dan Dia tidak pernah ragu menunjukkan bahwa Dia mengashi kita.
Kedua, kasih yang benar adalah kasih yang menghormati. Bapak-bapak, 1 Petrus 3:7b mengatakan, Hormatilah mereka (istri) sebagai teman pewaris kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu tidak terhalang. Ayat ini mengajarkan bahwa suami dapat menghalangi jawaban doanya sendiri dengan jalan tidak memperlakukan istrinya sebagaimana seharusnya. Suami adalah kepala rumah tangga, tetapi istri adalah hati rumah tangga. Baik kepala maupun hati tidak dapat hidup tanpa yang lain. Dan dengan demikian harus saling menghormati. Suami yang menghormati istrinya akan melindungi istrinya dari perlakuan kasar yang mungkin dilakukan anak-anak kepada ibunya. Pada saat seorang ayah mendengar sepatah kata saja yang tidak menghormati ibu, atau mengetahui sedikit pelanggaran dalam mematuhi perkataan ibu, sang ayah harus langsung menegur dan menghentikan mereka dengan cara yang tegas. Seorang suami yang melindungi istrinya dari perlakuan kasar dan ketidaksopanan anak-anak menimbulkan rasa hormat dalam hati anak terhadap kaum wanita. Setiap hari, seorang suami berkewajiban menggirangkan hati istrinya. Kalau suami mempunyai alasan untuk tidak puas, biarlah ia mengungkapkannya dengan sesedikit mungkin melukai hati istrinya, saat mereka berdua. Menunjukkan kesalahan di depan anak-anak dan mengeluh di depan orang luar, merupakan luka yang parah bagi istrinya. Demikian juga terhadap anak-anak. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Efesus; “Dan sekarang sedikit nasihat kepada para orangtua. Jangan terus menerus menggusari dan mencari-cari kesalahan anak-anak saudara, sehingga membuat mereka marah” (Ef 6:4, BIS). Larry Christenson, seorang pendeta menulis, “Seorang ayah yang menghormati anaknya akan meminta maaf apabila ia melakukan hal yang salah terhadap anaknya. Dengan demikian ia mendidik anaknya untuk rendah hati. Seorang ayah yang menghormati anaknya, akan mengampuni kesalahan anaknya setelah memberi pendisiplinan terhadap anaknya. Dengan demikian ia mengajar anaknya untuk berlaku adil dan member pengampunan. Seorang ayah yang menghormati anaknya akan memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapatnya dengan serius dan penuh hormat. Dengan demikian ia mengajar anaknya untuk menjadi seornag pemberani dalam mennyatakan kebenaran. Seorang ayah yang menghormati anaknya akan memuji ketika anaknya melakukan hal yang benar. Dengan demikian ia mengajar anaknya untuk menghargai jerih payah orang lain.” Dengan kata lain, seorang ayah yang menghormati anaknya, selalu menjadi teladan dalam tingkah laku mereka terhadap anaknya. Jangan mengharapkan anak kita dapat menghargai orang lain, jika kita tidak pernah menunjukkan penghargaan kita terhadapnya. Kasih yang menghormati berarti memperlakukan istri dan anak kita seperti suatu harta kekayaan yang diberikan Allah. Dengan cara yang lemah lembut dan penuh kesungguhan, ungkapkanlah cinta-kasih saudara kepada mereka melalui berbagai macam cara.
Ketiga, kasih yang benar adalah kasih yang melayani. Efesus 5:25 menyatakan, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya.” Artinya, standar kasih seorang ayah dan suami terhadap istri dan anaknya harus sama dengan standar kasih Yesus kepada jemaatNya, dan itu termasuk melayani. Karena Tuhan Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Allah mengharapkan suami akan bekerja dan meyediakan kebutuhan keluarganya, bertanggung jawab terhadap makanan, perumahan, pakaian, pendidikan, pertumbuhan rohani, dan rasa aman mereka. Ia juga harus berusaha agar anak-anaknya belajar bekerja supaya mereka dapat mencari nafkah bagi diri mereka sendiri. Hal ini berarti, suami harus rela mati terhadap egonya, kesombongannya, dan hak-haknya. Bila terjadi perselisihan dalam keluarga, pertama-tama suamilah yang wajib untuk merendahkan diri dan meminta ampun untuk kesalahan dalam tingkah lakunya. Dalam keadaan itu, seorang suami tidak menghakimi dosa istri dan anaknya dan terlebih lagi ia tidak meperhitungkan kesan yang diakibatkan oleh pertobatannya sendiri terhadap istri dan anaknya. Ia harus menyangkali diri sendiri, mengorbankan hak-haknya, sebab itulah panggilan Allah kepadanya sebagai seorang suami dan ayah. Larry Christenson menyatakan, “Sebagai kepala rohani keluarga, suami dan ayah itu harus yang pertama bertobat. Kalau seorang suami mendapati bahwa istri dan anaknya memberontak dalam wewenangnya, pelariannya yang pertama-tama untuk memohon perlindungan haruslah kepada Allah.” Dengan demikian, ia sudah melayani keluarganya untuk menjadi seperti Kristus.
Jadi bapak-bapak, kasihilah istri dan anak-anak kita dengan kasih yang mengampuni, kasih yang menghormati dan kasih yang melayani. Selamat mengasihi sesama. Tuhan Yesus memberkati. Amin.