BERPIKIR SEPERTI KRISTUS
Filipi 2:1-11

Adik-adik yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, kita semua pernah berselisih. Baik itu dengan orang tua, guru, teman, bahkan adik atau kakakk kita. Perselisihan itu bisa hanya perdebatan kecil, namun bisa juga pertengkaran hebat yang berujung pada permusuhan dan pemutusan hubungan. Gereja Filipi juga mengalami masalah perselisihan. Rasul Paulus melihat bahwa sesungguhnya perselisihan dapat membawa perpecahan, yang tentu saja merugikan diri sendiri dan komunitas. Pertumbuhan iman dan kasih akan tersendat dan tidak membawa berkat bagi masyarakat di sekeliling kita. Dan akhirnya nama Tuhan dipermalukan. Mengetahui akan akibat yang fatal dari sebuah perselisihan, Paulus menasihati jemaat Filipi dalam bagian yang baru saja kita baca. Ada 2 pokok yang dibahas oleh Paulus dalam bagian ini:

1. Penyebab perselisihan (ay. 3a-4)
Menurut Paulus, ada 2 penyebab terjadinya perselisihan:
a. Hanya memperhatikan kepentingan sendiri (ay. 3a-4)
Kamus Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa kepentingan sendiri adalah keuntungan atau kesenangan sendiri yang diperoleh dengan tidak memperhatikan orang lain. Jika seseorang selalu terlebih dahulu memperhatikan keuntungan sendiri, ia pasti akan berselisih dengan orang lain. Ia cenderung berbicara tentang orang lain sehingga mereka kelihatannya jahat dan ia nampaknya baik. Ia akan berusaha mati-matian agar pendapat dan keinginannya yang diterima dan dipenuhi. Tidak peduli apabila keinginannya itu bisa menyakiti atau merugikan orang lain. Gagasan ini nampak dalam Yakobus 3:14: “Mementingkan diri sendiri itu menuju kesombongan”.
b. Mengharapkan pujian yang sia-sia (ay 3b)
Untuk dikagumi, untuk dihormati, untuk mendapat kursi kehormatan, untuk dipandang bijaksana, untuk terkenal, untuk menjadi orang yang perkataannya selalu didengar, adalah hal-hal yang diidamkan orang. Namun tujuan orang Kristen bukanlah memamerkan diri, melainkan supaya mereka memuliakan Bapanya. Orang Kristen harus mengarahkan pandangan manusia bukan kepada dirinya, melainkan kepada Allah yang bekerja melalui dirinya.
2. Cara mencegah perselisihan (ay 3b-8)
Perselisihan dapat dicegah hanya dengan satu cara yakni BERPIKIR SEPERTI KRISTUS (ay 5). Bagaimana caranya agar kita bisa berpikir seperti Kristus?
a. Tinggal di dalam Kristus berarti bersatu (ay 2)
Tidak ada orang yang dapat berjalan dalam perselisihan dengan sesamanya, sekaligus dalam persatuan dengan Kristus. Bila ia memiliki Kristus sebagai teman seperjalanannya, mau tidak mau ia harus menjadi teman bagi setiap orang. Hubungan seseorang dengan sesamanya menjadi pertanda yang baik bagi hubungannya dengan Kristus. 1 Yoh 4:20-21 mengatakan bahwa barangsiapa mengatakan bahwa ia mengasihi Allah tetapi membenci sesamanya adalah seorang pendusta.
b. Memiliki kasih dan RohNya (ay. 2)
Kaish Kristen adalah kehendak baik tak terkalahkan yang tidak pernah mengenal kepahitan dan tidak pernah mencari yang lain kecuali kebaikan bagi orang lain. Yesus memberikan kuasa kepada kita untuk mengasihi, tidak hanya terhadap kawan-kawan kita, tetapi juga mereka yang membenci kita, yang tidak kita sukai, dan mereka yang jahat. Dan RohNya memampukan kita untuk dapat memperlihatkan kasih yang kekal terhadap seseorang.
c. Meneladani Kristus (ay 5-8)
Ciri khas yang utama dalam kehidupan Kristus adalah kerendahan hati, ketaatan, dan penyerahan diri. Ia tidak ingin menguasai orang lain; Ia hanya rindu melayani manusia (ay 7). Ia tidak mementingkan kehendak sendiri; Ia hanya mementingkan kehendak Bapa (ay 8). Ia tidak ingin meninggikan diri sendiri; Ia meniadakan kemuliaanNya untuk kepentingan manusia (ay 6, 8). Orang Kristen harus mempunyai perbuatan, pikiran yang sama seperti Kristus.

Jadi adik-adik supaya kita tidak jatuh ke dalam perangkap perselisihan, kita harus berpikir seperti Kristus dengan cara tinggal di dalam Kristus, memiliki kasih dan RohNya, serta meneladani Kristus.
Selamat berpikir seperti Kristus dan selamat terhindar dari perselisihan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

About these ads